3 Makanan Tiongkok dan Sejarah Uniknya

Cerita unik di balik pembuatan makanan? Memang ada? Tentu saja ada! Karena beberapa makanan di dunia memiliki cerita menarik yang berkaitan dengan tempat asalnya dan kali ini LingoAce akan membahas tentang 3 makanan Tiongkok yang memiliki cerita unik di balik pembuatannya!

Sumber foto: Unsplash

1. 月饼 (yuè bǐng) atau Kue Bulan

Kue bulan merupakan kue yang berbentuk bulat dengan ukiran khas huruf Mandarin dan di dalamnya diisi kuning telur yang melambangkan bulan purnama, meski seiring berkembangnya zaman, bentuk dan isi kue bulan makin bervariasi misalnya seperti kue bulan rasa green tea.

Menurut legenda zaman dahulu, di dataran Tiongkok terdapat 10 matahari yang membuat tanah di muka bumi menjadi sangat tandus dan gersang, akibat situasi ini, rakyat menjadi kesulitan untuk menemukan sumber kehidupan seperti tanaman hijau atau air dari sungai mengalir. Lalu, datanglah seorang pemanah gagah berani dengan niat baik ingin memperbaiki keadaan, ia kemudian menaiki gunung Kun Lun dan memanah ke arah sembilan matahari di atas langit hingga berjatuhan dan tersisa satu matahari.

Mengetahui apa yang dilakukan Hou Yi, Ratu merasa bangga dan menghadiahinya ramuan ajaib. Hou Yi pun menerima hadiah tersebut lalu pulang ke rumah menemui istri tercinta. Sesampainya di rumah, Hou Yi menitipkan ramuan ajaib pemberian Ratu pada istrinya, Chang'E. Namun, desas-desus mengenai kehebatan ramuan ajaib yang dimiliki Hou Yi membuat orang lain juga menginginkannya, ia adalah Feng Meng, murid Hou Yi.

Suatu hari, saat Hou Yi sedang tak berada di rumah, Feng Meng melancarkan siasat jahatnya untuk mencuri ramuan ajaib. Feng Meng lalu datang ke rumah Hou Yi dan terjadi pertengkaran sengit dengan Chang'E, hingga pertarungan yang menggunakan pedang itu membuat Chang'E tersudut. Chang'E tidak memiliki banyak pilihan tetapi ia juga enggan menyerahkan ramuan ajaib pada Feng Meng. Dalam situasi yang tak menguntungkan, Chang'E akhirnya mengambil sebuah keputusan untuk meminum ramuan ajaib itu.

Feng Meng sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Chang'E. Namun, kehebatan tentang ramuan ajaib memang bukanlah isapan jempol belaka. Kabar mengenai kekuatannya yang bisa membuat manusia menjadi dewa, perlahan mulai terlihat pada tubuh Chang'E yang semakin ringan lalu terbang ke langit hingga akhirnya berhenti dan tinggal di bulan.

Hou Yi sangat sedih ketika mengetahui istrinya tak lagi berada di bumi. Ia tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Chang'E selamanya. Nasib tragis Hou Yi rupanya sampai ke telinga seorang Dewa hingga membuatnya bersimpati dan berniat membantu dua sejoli itu.

Pada suatu malam. Dewa menghampiri Hou Yi melalui mimpi, ia memberi tahu sebuah cara untuk Hou Yi agar bisa bertemu dengan Chang'E, yaitu ketika bulan berada paling dekat dengan bumi. Hou Yi harus membuat dan menyajikan kue berbentuk bulan kemudian memanggil nama Chag'E berulang kali sepanjang malam.

Hou Yi yang terbangun dengan harapan menjadi sangat bahagia, kemudian ia menjalankan perintah Dewa tepat pada malam ketika jarak bulan sangat dekat dengan bumi, di mana jatuh pada tanggal 15 bulan ke-8, Hou Yi lalu memanggil nama Chang'E tanpa henti hingga akhirnya Chang'E turun ke bumi dan mereka bertemu selama satu hari.

Sejak saat itu, masyarakat Tionghoa mulai merayakan Festival Kue Bulan yang jatuh setiap tanggal 15, bulan ke-8 dalam penanggalan kalender lunar. Menurut masyarakat Tionghoa, pada tanggal tersebut, jarak bulan berada paling dekat dengan bumi, sehingga berdampingan dengan batas dan langit dan berwarna kemerahan yang memiliki makna penyatuan antara matahari (laki-laki) dan bulan (perempuan), seperti Yin dan Yang. Cerita menarik di balik kue bulan menjadikannya salah satu dari 3 makanan dari Tiongkok yang punya cerita unik di balik pembuatannya.

Sumber foto: Unsplash

2. 年糕 (nián gāo) atau Kue Keranjang

Kue keranjang terbuat dari tepung beras, tepung pati gandum, dan gula merah yang dimasak selama 11 sampai 12 jam. Bentuk kue keranjang bundar dan rasanya manis, kemudian teksturnya kenyal dan penyajiannya disusun secara bertingkat.

Semua hal yang terdapat pada kue keranjang bukan tanpa makna, seperti proses pembuatan selama 11 hingga 12 jam memiliki makna memupuk kesabaran atau kegigihan, bentuknya yang bundar memiliki makna persatuan, rasanya yang manis memiliki makna agar orang yang memakannya selalu bertutur baik, teksturnya yang lengket dan kenyal memiliki makna hubungan kekeluargaan yang erat, juga penyajian bertingkat memiliki makna peningkatan rezeki.

Selain penuh makna, kue kerajang juga memiliki cerita unik di balik pembuatannya. Salah satu di antara cerita unik tersebut adalah tentang raksasa jahat berama Nian dan seorang pemuda desa yang cerdas bernama Gao.

Pada suatu hari, hidup seorang raksasa besar nan jahat bernama Nian yang tinggal di dalam gua di dataran tinggi pegunungan. Nian sangat gemar memakan hewan-hewan di sekitar gunung, tetapi nasib tak mujur menimpanya saat musim dingin datang. Ketika itu, semua hewan bersembunyi untuk hibernasi dan Nian menjadi sangat kelaparan, ia selalu berniat turun ke sebuah desa dan memakan siapa pun penduduk yang ada di sana agar perutnya bisa kembali kenyang.

Rencana jahat Nian rupaya diketahui oleh penduduk desa dan membuat semua orang ketakutan karena tak ingin menjadi santapan Nian. Mengetahui kondisi ini, seorang pemuda desa yang cerdas bernama Gao mencari cara agar rencana jahat Nian tak berhasil. Gao akhirnya menemukan sebuah ide dengan membuat makanan dari campuran tepung ketan dan gula merah untuk kemudian disimpan di depan setiap pintu rumah. Tujuannya adalahh agar Nian menyantap makanan manis itu dan mengurungkan niat memakan warga karena perutnya yang telah terisi.

Nian akhirnya turun dari gunung dan pergi ke desa. Namun, suasana di desa terlihat sepi dan tak ada satu pun penduduk yang terlihat. Rencana Nian untuk memakan penduduk tertunda setelah ia melihat makanan berbentuk bundar pada setiap pintu rumah di desa. Nian kemudian mulai memakan makanan manis itu satu per satu hingga perutnya kenyang dan memilih kembali ke gua. Penduduk desa pun merasa sangat senang dan rencana Gao sepenuhnya berhasil.

Semenjak saat itu, setiap musim dingin, penduduk akan membuat makanan manis tersebut sebagai pengganti agar Nian tidak memburu mereka. Makanan itu diberi nama 年糕 (nián gāo) untuk mengenang jasa Gao yang telah menyelamatkan penduduk desa.

Menurut sejarah, perjalanan dibuatnya kue keranjang juga dimulai sejak 2.000 tahun yang lalu, tepatnya pada masa Dinasti Zhou (abad 11-256 SM) yang juga menjadi sebuah penanda rakyat Tiongkok mulai mengenal konsep "tahun". Kue keranjang dibuat sebagai bentuk pengorbanan kepada Tuhan dan leluhur seperti ketika tujuh hari menjelang tahun baru Imlek, saat tahun baru Imlek, dan kegiatan sembahyang leluhur.

Kue keranjang menjadi makanan wajib pada perayaan tahu baru Imlek tidak terlepas dari makna baik yang terkandung pada semua bagiannya, bahkan secara bahasa Mandarin saja, kata 年糕 (nián gāo) sendiri memiliki bunyi yang hampir sama dengan kalimat 年高 (nián gāo) yang artinya tahun yang lebih tinggi. Masyarakat Tionghoa tentu menyimpan harapan agar segala hal baik di tahun baru bisa terwujud bagi keluarga atau orang terkasih.

Sumber foto: Unsplash

3. 糖葫芦 (táng hú lu) atau Manisan Buah

Makanan satu ini terkenal sebagai camilan tradisional Tiongkok yang terbuat dari Haw berlapis gula dan memiliki cita rasa asam dan manis. Tanghulu biasanya dijual saat musim dingin sehingga memiliki nama lain, yakni 冰糖葫芦 (bīng táng  lu) atau "Tanghulu beku". Peranan musim cukup berpengaruh dalam pembuatan Tanghulu karena lapisan gula yang melumuri buah hanya akan bertahan menjadi es dalam musim dingin dan menjadi cepat leleh pada musim lainnya, seperti musim panas.

Perjalanan ditemukannya Tanghulu berdasarkan cerita rakyat adalah pada zaman Dinasti Song dari Selatan, ketika seorang Permaisuri Kaisar Guangzhong jatuh sakit dan melemah karena kehilangan nafsu makan. Kondisi Permaisuri diperparah dengan tak adanya satu pun tabib di istana yang mampu mengobati.

Kaisar yang sangat khawatir akan kesehatan Permaisuri kemudian memerintahkan pengawal mencari dan membawa tabib lain datang ke istana untuk mengobati Permaisuri. Setelah menunggu beberapa lama, pengawal membawa seorang tabib ke hadapan Kaisar. Lalu, tabib pun mulai memeriksa kondisi kesehatan Permaisuri, tabib memberi tahu Kaisar diagnosisnya bahwa Permaisuri tidak memiliki penyakit serius tetapi untuk membuat kesehatan Permaisuri kembali membaik, tabib memberi resep untuk merebus Haw dengan gula kristal dan mengonsumsinya sebelum makan.

Kaisar melakukan saran tabib dan beberapa hari kemudian kondisi kesehatan Permaisuri benar-benar kembali pulih. Khasiat dari resep obat yang tabib beri menyebar ke seluruh negeri, orang-orang mulai mengikuti dengan menusuk beberapa Haw pada kayu kecil lalu melumurinya dengan gula kristal hingga seiring waktu, makanan ini menjadi camilan umum yang dikenal dengan nama Tanghulu.

Tanghulu juga dipercaya dapat mengobati masalah pencernaan karena manfaat dari buah Haw. Pada zaman modern, Tanghulu sudah dimodifikasi dengan bahan dasar buah lain seperti stroberi, kiwi, pisang, ceri, dan masih banyak lagi. Camilan lezat ini pun menjadi makanan terakhir yang bergabung dalam 3 makanan Tiongkok yang punya cerita unik di balik pembuatannya.

Bicara soal Tiongkok, keunikan negara ini tidak berhenti hanya pada makanan saja, hal unik lainnya adalah bahasa Mandarin yang dituturkan oleh lebih dari satu miliar orang di dunia, di masa depan akan banyak manfaat yang bisa diperoleh jika mempunyai keahlian berbahasa Mandarin.

Mengenalkan bahasa Mandarin sejak kecil lebih memudahkan anak dalam mempelajari dan memahaminya karena pada usia tersebut gangguan lebih sedikit didapat dibanding usia remaja atau deeweasa. Sejalan dengan tujuan LingoAce Indonesia yang khusus membuka kelas bahasa Mandarin bagi anak usia 6 sampai 15 tahun.

Setiap kelas bahasa Mandarin di LingoAce Indonesia memiliki level yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Tak perlu khawatir jika anak sama sekali belum mengenal bahasa Mandarin karena LingoAce Indonesia menyediakan kurikulum IN atau International dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Inggris, tetapi jika anak sudah memiliki dasar dalam bahasa Mandarin, maka kurikulum SG atau Singapore akan menjadi pilihan yang lebih tepat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin si kecil. LingoAce Indonesia juga didukung dengan guru native speaker bahasa Mandarin profesional, sehingga metode dan cara mengajar lebih tepat dan benar. Suasana belajar pun dibuat menyenangkan dengan berbagai materi yang dikemas secara interaktif.

Hargga yang ditawarkan LingoAce dapat dipilih bergantung dari lama belajar, mulai dari 3 bulan, 6 bulan, sampai 1 tahun, atau jumlah murid di dalam satu kelas. Jika menyukai suasana grup, terdapat pilihan kelas dengan maksimal 6 orang atau jika ingin suasana yang lebih ekslusif bisa memilih kelas privat. Saat ini, sistem belajar di LingoAce Indonesia dilakukan secara daring, sehingga lebih efektif dan efisien. Suasana belajar virtual ini dapat diakses melalui platform website resmi LingoAce Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi? Daftar segera di LingoAce Indonesia dan daparkan berbagai promo menarik juga satu kali kelas free trial!