4 Pertanda Anak Mungkin Telah Jadi Korban Bullying

Sering kali anak-anak tidak membicarakan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Dalam hal ini, para psikolog mengklaim bahwa ada beberapa alasan yang membelakanginya seperti karena takut, malu, atau karena anak cenderung meremehkan apa yang terjadi, bahkan sampai percaya bahwa mereka pantas menerima rundungan atau perilaku agresif dan bahkan pelecehan yang dilakukan oleh teman-temannya.

Fakta ini tentu sangat memprihatinkan jika dibiarkan terjadi begitu saja. Guna mengantisipasi kejadian ini, para orang tua perlu belajar membaca beberapa gesture yang kerap menjadi tanda-tanda anak telah menjadi korban bullying.

1. Perubahan perilaku dan penurunan prestasi akademik

Anak yang telah menjadi korban perundungan biasanya mulai mengalami gangguan psikosomatik (misalnya sering sakit kepala atau sakit perut) atau depresi, kelelahan dalam belajar, kesulitan dalam perhatian dan konsentrasi yang berdampak pada penurunan prestasi akademik.

2. Tanda-tanda fisik

Setelah melihat perkembangan psikologi dan mental anak, selanjutnya arahkan perhatian ke tanda-tanda fisik, seperti goresan, memar, atau robekan pada pakaian. Anak korban bullying bahkan biasanya akan mencoba untuk menyembunyikan atau menipu orang tuanya dengan mengatakan ia telah jatuh atau mencoba mengelabui dengan gerakan kikuk, serta menyangkal keterlibatan teman sebaya lainnya.

3. Mencuri dan kehilangan barang

Korban perundungan biasanya akan melewatkan waktu jajan atau berulang kali mengklaim bahwa ia telah kehilangan beberapa barang (misalnya, perlengkapan sekolah, gelang, atau beberapa barang pribadi yang ia bawa ke sekolah). Anak-anak ini juga kerap mengatakan bahwa mereka tidak lagi dapat menemukannya, atau telah lupa di mana mereka menempatkannya.

Terkadang, mereka juga mungkin akan telalu sering meminta uang atau diam-diam mengambil sejumlah uang dari dompet orang tua. Parahnya, uang ini tidak mereka gunakan untuk membeli makanan ringan atau membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri. Dan jika ketahuan, anak-anak ini biasanya akan mengatakan bahwa mereka telah menghilangkan uang yang diminta.

4. Tertutup

Anak korban perundungan juga akan menjadi lebih tertutup dan terisolasi, si kecil yang telah menjadi korban bullying akan menjauh dari teman-teman dan enggan untuk pergi ke sekolah atau berolahraga. Mereka juga tidak ingin lagi pergi keluar, misalnya ke taman atau tempat lain. Singkatnya, anak-anak ini biasanya akan memilih untuk melakukan segalanya untuk dapat tinggal di rumah.

Mengingat akan parahnya dampak perundungan pada anak, maka akan sangat penting untuk memperhatikan setiap sinyal yang dapat ditangkap dalam perilaku anak yang telah menjadi korban bullying. Para orang tua tidak boleh meremehkan tanda-tanda ini dan harus sebisa mungkin mendorong mereka untuk berbicara tentang apa yang terjadi dan apa yang mereka alami.

Pendekatan ini krusial untuk meyakinkan si kecil bahwa mereka tidak bersalah dan seharusnya tidak malu karenanya. Penting juga untuk membuat anak merasa dipahami akan situasinya dan bukan karena ia berada di bawah tekanan.

Guna menanggulangi masalah ini, ada baiknya untuk meningkatkan kemampuan linguistik anak. Peningkatan kemampuan diskusi dan berpikir logis akan membuat anak menjadi lebih siap dalam menghadapi realita persekolahan modern. Salah satu shortcut untuk meningkatkan hard skill yang satu ini adalah dengan belajar bahasa Mandarin di LingoAce.

Platform e-learning nomor satu ini adalah pionir dalam pendekatan belajar komprehensif yang mengandalkan layanan empat-ke-satu di mana tiap peserta didik akan dibantu langsung oleh empat profesional mulai dari Course Consultant, Learning Advisor, guru native speaker, hingga Operation Specialist. Hasilnya? Pengalaman belajar bahasa Mandarin yang imersif dan efektif.

Enggak percaya? Daftar via link kelas free trial sekarang juga!