Adat Istiadat Pernikahan Masyarakat di Tiongkok

Tiap acara pernikahan dari suatu budaya memiliki daya tarik dan keunikan masing-masing. Di Indonesia, acara pernikahan tiap suku dan adat bisa benar-benar berbeda meski memiliki tujuan yang sama. Namun, perbedaan yang sangat beragam inilah yang membuat masing-masing suku dan adat menjadi unik dan menjadi sangat menyenangkan untuk dilihat.

Nah, kalau adat pernikahan masyarakat Tionghoa, kalian sudah pernah dengar belum? Adat pernikahan masyarakat Tionghoa itu memiliki proses yang cukup panjang dan lama, lho. Hal ini untuk menyimbolkan keseriusan kedua mempelai dalam menyambut babak baru dalam kehidupan mereka berdua. Yuk, kita lihat langsung seperti apa adat pernikahan masyarakat Tionghoa!

Selama lamaran pernikahan, keluarga dari pihak laki-laki akan memberikan hadiah untuk mengumumkan pertunangan, biasanya hadiah ini berupa makanan dan kue. Lalu, kedua keluarga mengirimkan kue kebahagiaan ganda pada kerabat dan teman mereka, bersama dengan undangan. Keluarga dari pihak wanita akan memberikan daftar emas kawin dan keluarga pihak pria akan melakukan ritual 'pengaturan tempat tidur pengantin'.

Upacara minum teh

Setelah kedua keluarga dari pihak perempuan dan laki-laki sudah diperkenalkan dari acara tunangan, mereka akan bersama-sama meminum Tsao Chun, sebuah teh dari Tiongkok. Setelah habis, mereka akan diberikan sebuah amplop merah keberuntungan, pemberian keluarga yang berisi uang atau terkadang perhiasan.

Tradisi masyarakat Tionghoa juga secara turun-menurun mengajak mempelai pria untuk mendekorasi mobil dan nantinya menjemput pengantinnya untuk pergi ke acara resepsi bersama-sama. Selama upacara, mereka akan bertukat cincin, berbagi minuman Tsao Chun sambil menyilangkan tangan. Dalam upacara ini, hanya keluarga yang diundang, namun setelah jamuan makan dimulai, undangan yang lain akan ikut bergabung.

Gaun pengantin tradisional Tiongkok

Pengantin wanita umumnya menggunakan gaun berwarna merah yang dinamakan qipao dan menutupi wajahnya dengan kerudung merah di hari pernikahannya. Namun saat ini, banyak pernikahan modern yang membuat pengantin wanitanya jadi memakai gaun berwarna putih saja.

Perjamuan pernikahan ala Tiongkok

Proses yang satu ini bisa dibilang yang paling menguras kantong. Biasanya, para tamu akan menandatangani nama mereka di buku atau di gulungan untuk mempresentasikan hadiah mereka. Setelah makan malam dimulai, pengantin wanita akan berganti dengan gaun tradisional Tiongkok yang berwarna merah.

Dalam budaya tradisional Tiongkok, kedua orang tua dari masing-masing mempelai akan mendapatkan pesta pernikahan yang terpisah. Selain itu, berbagi makanan yang disajikan dianggap simbolis dalam budaya Tionghoa, seperti ikan utuh untuk melambangkan kelimpahan dan biji teratai manis untuk mencuci mulut yang menyimbolkan keinginan untuk kesuburan.

Setelah seluruh rangkaian acara telah terlaksana dengan baik, biasanya satu hari setelah pernikahan, pengantin wanita akan menyiapkan sarapan untuk kedua keluarga. Dia juga akan menerima hadiah kecil dari para kerabat yang lebih senior darinya, setelah itu, sang pengantin wanita juga akan mendapatkan gelar resmi dalam keluarga mereka.

Wah, proses yang cukup panjang, ya? Tentunya hal ini bukan dilakukan hanya iseng-iseng belaka. Tiap proses dan langkah yang dilakukan dalam suatu adat atau tradisi pasti memiliki cerita tertentu di baliknya yang memiliki sejarah panjang.

Adat dan suatu budaya sudah sepantasnya dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh generasi-generasi selanjutnya, sebaiknya mereka sudah secara perlahan dikenalkan dengan tradisi keluarga mereka sejak mereka kecil agar mereka bisa merasa lebih terikat.

Di era ini mungkin agak sulit untuk mengajak anak-anak belajar hal-hal atau tradisi yang agak asing di telinga mereka karena mereka sudah sangat terbiasa dengan hal-hal yang berbau globalisasi.

Namun, tenang saja! Tiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kan? Jika kalian ingin mengenalkan berbagai budaya Tionghoa yang tentunya ada banyak sekali ke si kecil, mulai dengan LingoAce, yuk! LingoAce adalah platform e-learning bahasa Mandarin untuk anak usia 6 hingga 15 tahun, tapi LingoAce enggak hanya mengajarkan bahasa Mandarin saja, lho, ke anak-anak.

LingoAce juga akan membei tahu dan mengajarkan anak-anak mengenai budaya dan hidup orang-orang di Tiongkok. Tentunya guru-guru LingoAce bisa sangat mengerti seperti apa kehidupan di Tiongkok, karena pengajar LingoAce sendiri adalah guru native speaker dari Tiongkok yang sudah memiliki keahlian khusus!

Mereka sudah melewati Ujian Kemampuan Putonghua degan nilai yang sangat baik dan sudah melewati banyak pelatihan sebelumnya agar bisa menyesuaikan diri dengan para anak-anak LingoAce.

Lebih kerennya lagi, LingoAce juga memiliki program belajar yang beragam agar bisa menyesuaikan dengan kemampuan belajar tiap anak, lho. Jadi, parents enggak perlu khawatir, ya, kalau si kecil belum bisa bahasa Mandarin sama sekali. LingoAce juga punya kurikulum terbaik untuknya, kok!

Tunggu apa lagi? Yuk, daftar kelas free trial di LingoAce sekarang dan dapatkan free konsultasi dengan tim LingoAce!