Dampak Negatif Bullying bagi Perkembangan Anak

Dampak negatif bullying bagi perkembangan anak telah terdokumentasi dengan baik. Di antara konsekuensi menjadi korban bullying adalah situasi kecemasan yang dapat menyebabkan pengabaian atau meninggalkan sekolah lebih awal, tindakan melukai diri sendiri, hingga ide, dan upaya bunuh diri. Menurut sebuah riset di Italia, 30% korban bullying terlibat dalam perilaku melukai diri sendiri, sementara 10% yang lain akan berpikir atau mencoba bunuh diri.

Penelitian bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa bullying memiliki konsekuensi psikologis yang sangat buruk. Khusus berkaitan dengan cyberbullying, ada banyak penelitian yang kini telah menetapkan bagaimana korban perilaku ini juga memiliki masalah psikologis yang kronis.

Penelitian terbaru telah menemukan bahwa bullying dan cyberbullying memiliki efek negatif yang sama pada korban, tetapi beberapa fitur cyberbullying, seperti dampak dan anonimitas dapat memperburuk situasi.

Dampak negatif bullying dan cyberbullying

Dampak psikologis dari bullying dan cyberbullying bervariasi tergantung pada tingkat keparahannya dan waktu berlangsungnya. Berikut beberapa akibat yang ditunjukkan oleh anak dan remaja yang menjadi korban bullying dan/atau cyberbullying:

  1. Performa akademik yang memburuk di sekolah
  2. Tendensi untuk absen dari aktivitas di sekolah
  3. Depresi
  4. Kecemasan sosial
  5. Kepercayaan diri yang rendah
  6. Frustrasi
  7. Tingkat kemarahan yang tinggi
  8. Perasaan sedih yang berkelanjutan

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa hanya 40-50% anak yang mengalami cyberbullying yang tahu siapa pelakunya. Fakta ini secara masif dapat meningkatkan rasa frustrasi dan ketidakberdayaan.

Dampak jangka panjang bullying dan cyberbullying

Masalah emosional dan perilaku yang dialami oleh korban dan pelaku bullying dapat berlanjut hingga dewasa yang menghasilkan dampak negatif jangka panjang. Bahkan, korban intimidasi dapat secara bertahap mengembangkan perilaku antisosial atau vandalistik, penggunaan dan penyalahgunaan zat berbahaya (seperti alkohol atau obat-obatan), hingga pengembangan perilaku kriminal.

Bahkan, mereka  yang berperan sebagai "penonton" dalam kegiatan bullying dapat mengembangkan konsekuensi sehubungan dengan apa yang mereka alami: Perkembangan perasaan bersalah atau tidak berdaya karena tidak ikut campur dalam menginterupsi pelaku intimidasi atau membantu korban dan, dalam jangka panjang, empati yang buruk atau ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain.

Fatka ini hanyalah beberapa data sehubungan dengan dampak bullying dan cyberbullying dalam kehidupan orang-orang yang menderitanya. Mungkin untuk saat ini, realita ini masih hanyalah sebuah data statistik untuk banyak orang tua, tetappi di belakangnya ada ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang dirasakan para korban perundungan. Selain itu, ada kesulitan yang pelik yang juga dihadapi para orang tua korban dan pelaku perundungan.

Mencegah lebih baik dari mengobati

Setiap anak atau remaja memiliki caranya sendiri yang sangat pribadi dalam menghadapi situasi sulit dan menghadapinya, tetapi faktanya adalah bahwa bullying tidak akan bisa ditolerir dengan kompensasi berbentuk apa pun!

Intinya, kita sebagai orang dewasa, guru, dan orang tua, harus menyadari akan pentingnya untuk berkomunikasi secara rutin dengan anak dan memastikan bahwa kita telah menjadi contoh yang baik. Perkembangan kemampuan linguistik dan nalar juga bisa jadi tameng utama untuk menghindarkan anak dari perundungan.

Bergabung ke LingoAce dan belajar bahasa Mandarin di platform ini mungkin jadi opsi tercepat untuk bisa meningkatkan kecakapan dan kemandirian skill berbahasa yang baik. Apalagi, LingoAce juga menerapkan sistem pembelajaran digital yang terbukti sangat ideal untuk generasi digital saat ini.

Sembari belajar, secara rutin bergabung ke kelas kursus bahasa Mandarin online ini, akan mengajarkan si kecil tentang budaya digital online yang baik yang secara langsung menghindarkan potensi kebiasaan cyberbullying. Yuk, gabung sekarang juga!