Dongeng Cara Menimbang Gajah

Dongeng telah dikenal ratusan tahun lalu untuk menyampaikan berbagai cerita yang kaya akan makna dan pelajaran hidup. Kebaikan dan norma sosial sering kali dibingkai melalui dongeng untuk menjadi hal ringan yang mudah dipahami. Umumnya, anak-anak sangat menyukai dongeng karena daya imajinasi mereka dapat berkembang baik ketika mendengarkan atau membaca dongeng.

Ada banyak cerita dongeng di seluruh dunia, setiap negara memiliki keunikan tersendiri dengan nilai kebudayaan dan norma yang dijunjung. Salah satunya adalah sebuah cerita dari negara Tiongkok yang berjudul 'Dongeng Cara Menimbang Gajah'.

Pada zaman dahulu, seorang Kaisar Tiongkok Mendapatkan hadiah dari India. Hadiah itu berukuran sangat besar dan tak satu pun warga di negeri Tiongkok pernah melihatnya. Kebanyakan warga menatap dengan kagum juga bingung.

Seekor gajah dengan belalai panjang dan telinga lebar itu memiliki tubuh gempal nan besar, membuat semua orang bertanya-tanya, tak terkecuali dengan Kaisar.

Sumber foto: Pixabay

"Hmm... kira-kira berapa berat hewan ini, ya?" Tanya Kaisar, mengelus-elus jenggot panjangnya sambil melihat gajah.

"Yang Mulia, maaf tapi saya tidak mengetahuinya," jawab pelayan istana yang berada di belakang Kaisar.

"Bagaimana jika hewan ini ditimbang?" Tanya Kaisar Kembali.

"Yang Mulia, maaf tapi tidak ada alat timbang untuk hewan sebesar ini di dalam istana."

Kaisar yang masih menyimpan rasa penasaran, kemudian memerintahkan orang-orang di dalam istana mencari siapa saja yang bisa mengetahui cara untuk menimbang berat gajah itu. Lalu, tiba-tiba Putra Mahkota yang baru berusia 8 tahun menghampiri Kaisar.

"Ayah, aku tahu bagaimana cara menimbang hewan ini."

Semua orang dibuat terkejut oleh ucapan Putra Mahkota tetapi hanya Kaisar yang tampak tersenyum lebar karena keberanian putranya.

"Oh, iya? Benarkah? Bagaimana kau bisa melakukannya, anakku? Kau masih kecil... tapi baiklah. Coba katakan anakku, aku ingin mendengar caramu menimbang hewan ini," ujar Kaisar, terlihat penasaran di balik senyumnya pada Putra Mahkota.

Setelah mendapat izin Kaisar, Putra Mahkota meminta para penjaga menyiapkan perahu dan batu bata untuk dibawa dan disimpan ke danau di istana.

Sumber foto: Pixabay

Gajah yang akan ditimbang pun ikut berpindah tempat ke tepi danau bersama kaisar dan para pelayan. Putra Mahkota kemudian menunjuk ke arah gajah.

"Penjaga, angkat hewan itu ke atas perahu," ujar Putra Mahkota.

Para penjaga mengikuti permintaan Putra Mahkota lalu menaikkan gajah ke atas perahu, setelah itu Putra Mahkota menunjuk ke arah perahu.

"Penjaga, berikan tanda pada batas air di badan perahu, lalu turunkan hewan itu dari atas perahu."

Semua orang di sisi danau masih tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Putra Mahkota tetapi mereka juga semakin tak sabar untuk segera mengetahui berat hewan gempal nan besar yang sekarang sudah berada di luar perahu.

Setelah perahu kosong, Putra Mahkota menunjuk ke arah batu bata.

"Penjaga, isi perahu itu dengan batu bata sampai batas air di badan perahu sama seperti dengan batas air saat gajah menaikinya."

Permintaan Putra Mahkota dipenuhi, para penjaga memasukkan satu per satu batu bata ke dalam perahu hingga batas air di badan perahu mulai terlihat.

"Ayah, berat hewan itu sama seperti jumlah batu bata yang berada di atas perahu," ujar Putra Mahkota sambil menunjuk ke arah perahu.

Ekspresi kagum terlihat jelas pada wajah setiap orang, Kaisar sangat bangga dengan keberanian dan kepintaran Putra Mahkota yang telah berhasil menemukan cara menimbang gajah.

"Kau sangat cerdas, anakku," tandas Kaisar sambil tersenyum.

Dari 'Dongeng Cara Menimbang Gajah' dapat diambil pesan moral yakni untuk bisa menimbang seekor gajah maka haruslah cerdas dalam menggunakan akal sehingga hambatan bisa diselesaikan dengan baik. Selain itu, untuk menjadi cerdas harun rajin belajar juga membaca.

Bicara soal belajar, banyak hal bisa dipilih untuk membuat kemampuan otak semakin terstimulus, seperti mencoba belajar bahasa asing yakni Mandarin. Lebih dari satu miliar orang di dunia menjadi penutur bahasa Mandarin dan akan banyak manfaat yang bisa diperoleh jika berhasil fasih berbahasa Mandarin.

Sumber foto: Pixabay

Mengenalkan bahasa Mandarin sejak kecil memberi kemudahan bagi anak dalam mempelajari dan memahaminya karena pada usia tersebut gangguan lebih sedikit didapat. Sejalan dengan tujuan LingoAce Indonesia yang khusus membuka kelas bahasa Mandarin untuk anak usia 6 - 15 tahun.

Setiap kelas bahasa Mandarin di LingoAce Indonesia memiliki level yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Tak perlu khawatir jika anak sama sekali belum mengenal bahasa Mandarin karena LingoAce Indonesia menyediakan kurikulum IN atau International dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Namun, jika anak sudah memiliki dasar dalam bahasa Mandarin, maka kurikulum SG atau Singapore menjadi pilihan tepat untuk meningkatkan kemampuan karena menggunakan bahasa pengantar Mandarin. LingoAce Indonesia juga memakai jasa native speaker bahasa Mandarin profesional, sehingga metode dan cara mengajar enjadi tepat dan sesuai. Suasana belajar pun dibuat menyenangkan dengan berbagai materi yang dikemas secara kreatif.

Harga yang ditawarkan LingoAce dapat dipilih bergantung pada lama belajar mulai dari 3 bulan, 6 bulan, hingga 1 tahun atau jumlah murid di dalam satu kelas. Jika menyukai suasana grup, terdapat pilihan kelas dengan maksimal 6 orang atau jika ingin suasana lebih ekslusif, bisa memilih kelas privat. Sistem belajar LingoAce Indonesia dilakukan secara daring dan suasana belajar virtual tersebut dapat diakses melalui website resmi LingoAce Indonesia.

Jadi, tunggu apa lagi? Daftar sekarang di LingoAce dan dapatkan berbagai promo menarik, juga satu kali kelas free trial gratis!

Jangan sampai terlewat, ya, karena setiap anak memiliki kesempatan untuk menjadi cerdas seperti Putra Mahkota dalam 'Dongeng Cara Menimbang Gajah'.