Masjid Cheng Hoo, Masjid Unik dengan Sentuhan Budaya Tionghoa

Hubungan antara Tiongkok dan Indonesia di masa lalu telah memengaruhi Indonesia dalam banyak aspek. Hubungan antara Nusantara atau Indonesia dan Negara Tirai Bambu bahkan diklaim banyak peneliti sudah ada sejak zaman pra-Islam. Hubungan tersebut ternyata meninggalkan banyak warisan penting dan jejak sejarah di tanah air. Bahkan, saat ini banyak sejarawan yang juga telah mencatat tentang sejarah, agama, dan budaya Tiongkok yang telah terpatri kuat dalam tatanan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Masjid Cheng Hoo.

Desain Masjid Muhammad Cheng Hoo 

Pasti ada banyak yang salah mengira bahwa Masjid Muhammad Cheng Hoo yang berwarna cerah sebagai tempat peribadatan penganut agama Buddha. Terang saja, bangunan utamanya adalah sebuah menara oriental berjenjang dengan tiga atap dan atap terbalik yang sangat identik dengan gaya arsitektur pagoda.

Struktur menara berbentuk segi delapan dalam budaya Mandarin adalah untuk melambangkan homonim keberuntungan dan kemakmuran, dan juga untuk melambangkan jaring laba-laba, yang berperan dalam kelangsungan hidup Nabi Muhammad ﷺ selama bersembunyi di sebuah gua demi menghindari pengejaran oleh kaum kafir Quraisy.

Bangunan utama masjid digunakan untuk salat dan khutbah layaknya masjid-masjid pada umumnya. Sebuah lampu besar gantung digantung dengan huruf Mandarin dan pola antik membumbui interiornya. Masjid Muhammad Cheng Hoo dibuat oleh Aziz Johan, desainnya mengambil inspirasi dari masjid Niu Jie abad ke-1 di Beijing.

Bangunan ini berukuran sebelas kali sembilan meter yang ternyata memilki maknanya sendiri. Sebelas untuk menggemakan ukuran Ka'bah di Mekah sementara sembilan untuk melambangkan Wali Songo, sembilan ulama suci bersejarah yang menyebarkan Islam di Jawa.

Sejarah penamaan Masjid Cheng Hoo 

Penamaan Masjid Muhammad Cheng Hoo mengambil inspirasi dari Laksamana Dinasti Ming abad ke-15, Zheng He, yang merupakan seorang Muslim yang taat. Dia dikenal sebagai pemimpin armada dari sekitar 100 kapal dan telah melakukan perjalanan melintasi lautan tujuh kali, lebih dari delapan dekade sebelum Christopher Columbus. Penjelajah angkatan laut ini membuat sejarah dengan kemampuan peningkatan level perdagangan dan kontribusi diplomatiknya.

Selama kunjungannya ke Tanah Air, Laksamana Cheng Hoo sering singgah ke Semarang dan Surabaya, di mana ia bertemu dengan Muslim Tionghoa setempat dan membantu mengembangkan komunitas tersebut. Motif yang menggambarkan sosok ini dan armadanya melintasi Samudra Hindia juga menghiasi fasad kanan masjid.

Merupakan masjid pertama di tanah air yang menggunakan konsep dengan budaya Tiongkok yang sangat kental, Masjid Muhammad Cheng Hoo telah menjadi sumber inspirasi bagi masjid oriental di daerah lain seperti di Pasuruan dan Palembang. Mengingat Muslim Tionghoa adalah minoritas, rumah ibadah seperti Cheng Hoo dengan gamblang menonjolkan keindahan dalam keberagaman di Indonesia.

Dengan tingkat keharmonisan dan kerja sama yang semakin meningkat tiap tahunnya, kemampuan berbicara bahasa Mandarin menjadi semakin krusial. LingoAce bisa jadi solusi untuk para orang tua yang berencana memperkenalkan bahasa Mandarin pada buah hati mereka.

Startup kelas global ini memiliki trisula komponen aktif yang telah berhasil menarik perhatian 300 ribu murid dari 80 negara. Guru kompeten yang native speaker, kurikulum dan silabus yang dibuat seakurat mungkin dan juga kelas dengan kapasitas eksklusif jadi fondasi dasar untuk menjamin pengalaman belajar bahasa Mandarin yang imersif dan otentik.

Masih enggak percaya? Yuk, daftar dengan menggunakan link kelas free trial gratis sekarang!