Mengenal Lebih Dekat Budaya Tarian Singa Tradisional dari Tiongkok

Tarian Singa tradisional Tiongkok ini memiliki nama asli 舞狮 (wǔ shī). 舞 (wǔ) berarti menari dan (shī) berarti singa. Tarian ini dimainkan oleh pemain yang meniru gerakan singa dalam kostum singa besar yang berwarna-warni. Untuk koordinasi tugasnya, tarian ini dioperasikan oleh dua penari, salah satunya menggerakkan kepala dan anggota badan depan, sementara yang lain membentuk bagian belakang singa; bagian belakang dan kaki belakang.

Bersama-sama, mereka menyimulasikan gerakan singa menari dengan suara simbal, gong yang bergema, dan suara tabuhan genderang. Musik yang keras akan membantu mengoordinasikan gerakan para penari, yang wajah dan tubuhnya bersembunyi di balik kostum tersebut.

Sejarah Tarian Singa Tradisional Tiongkok

Meskipun singa bukan hewan asli asal Tiongkok, orang-orang dahulu menganggap binatang ini sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Mereka percaya singa bisa mengusir roh jahat dan melindungi manusia dan hewan. Sejarah tarian barongsai diklaim para ahli bisa ditarik kembali ke ribuan tahun yang lalu, diturunkan dari generasi ke generasi, menciptakan tarian untuk hiburan dan tujuan spiritual.

Singa juga dianggap sebagai hewan keberuntungan dan tariannya dilakukan sebagai sarana untuk mengusir roh jahat dan menyambut periode panen. Tarian ini dilakukan pada acara-acara besar, seperti Tahun Baru Imlek, dan perayaan meriah lainnya, untuk keberuntungan.

Tarian Singa Tradisional Tiongkok dan Keberuntungan

Ada beberapa ritual dalam tarian ini yang diklaim bisa membawa kekayaan dan keberuntungan. Salah satu ritual yang dilakukan selama tarian, misalnya, termasuk selada. Kata Mandarin untuk selada terdiri dari dua karakter: 生菜 (sheng cài). Dengan mengganti hanya karakter kedua dalam duo ke karakter yang berbeda tetapi dengan fonetik yang sangat mirip; 生财 (sheng cái), artinya berubah menjadi kata kerja menghasilkan uang. 

Secara fonetis, kedua kata tersebut hanya berbeda satu nada. Inilah sebabnya mengapa dalam aksi tarian singa diberi makan selada, dan melakukannya kembali ke penonton untuk memberi mereka kemakmuran.

Ritual lainnya adalah 採青 (cǎi qīng). 採 (cǎi) artinya memilih; 青 (qīng) artinya hijau; bersama-sama, kedua kata ini diterjemahkan sebagai memetik sayuran. Ritual ini populer selama Tahun Baru Imlek, atau pada upacara pembukaan bisnis. Dalam kegiatan ini, singa tidak diberi makan, tetapi perlu mencari makanannya. 

Nah, pemilik bisnis tadi akan mengikatkan amplop merah berisi uang, hadiah untuk para penari, ke kepala singa, untuk melambangkan kekayaan, dan menggantungnya tinggi-tinggi di atas pintu depan. Si Singa harus meraih selasa, memakannya dan memuntahkan daun selada untuk membawa kemakmuran bagi bisnis tersebut.

Dalam beberapa kasus, selada ini digantung tinggi di atas dan para penari mungkin akan perlu menari di celah bambu atau piramida manusia untuk mengambil makanan tersebut.

Keunikan budaya Tiongkok ini masih merupakan salah satu dari banyak budaya lainnya yang bisa dipelajari dan diambil maknanya. Namun, tentu saja, mempelajari sebuah budaya akan jauh lebih mudah untuk dilakukan dengan mempelajari bahasa Mandarin dari LingoAce.

Berbeda dengan platform les daring lainnya, startup les bahasa Mandarin online kelas dunia ini memastikan bahwa semua sesi belajar yang berlangsung akan berjalan dengan imersif dan efektif. Kontennya juga dipastikan telah berstandar internasional dan disajikan sesuai dengan kemampuan peserta didik.

Penasaran? Yuk, gunakan link daftar berikut ini untuk mendapatkan promo kelas free trial gratis dari LingoAce. Informasi dan promo terbaru ada di akun Instagram lingoAce, ya!