Cerita Dongeng Anak Asal Jawa Timur: ‘Keong Mas’

Sudah bukan rahasia kalau Indonesia adalah negara dengan banyak budaya dan ceita unik di dalamnya. Berbagai penjuru kota di Indonesia memiliki kisah uniknya masing-masing juga. Seperti kisah asal Jawa Timur yang berjudul ‘Keong Mas’ ini. Kisah ini sudah sangat populer dan diketahui banyak orang. Lebih hebatnya lagi, cerita ‘Keong Mas’ bahkan sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan ditampilkan di beberapa pameran pentas seni. Karena itu, coba ajak si kecil kenalan lebi jauh dengan kisah ini, yuk!

Selamat membaca!

Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang bernama Kertamarta. Raja ini memimpin sebuah kerajaan yang sangatlah indah dan megah. Nama kerajaan ini dikenal dengan nama Kerajaan Daha. Raja ini memiliki dua putri yang sangat cantik, bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana. Seperti layaknya hidup di dunia dongeng, hidup mereka sangat bahagia dan berkecukupan.

Hingga tiba saatnya ada seorang pangeran tampan dari Kerajaan Kahuripan yang datang ke Kerajaan Daha. Nama pangeran ini adalah Raden Inu Kertapati. Beliau mendatangi Kerajaan Daha karena ia ingin mencari seorang putri untuk dinikahinya. Raden Inu Kertapati pun jatuh hati saat melihat Candra Kirana, ia sangat terpesona dengan kecantikan yang dipancarkan Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati pun disambut baik oleh sang raja karena ia juga ingin yang terbaik untuk putrinya. Saat proses lamaran berlangsung, Candra Kirana pun menerima ajakan menikah Raden Inu Kertapati.

Di sisi lain, Dewi Galuh iri pada saudarinya. Diam-diam, Dewi Galuh ternyata menyukai Raden Inu Kertapati dan ia merasa dirinya lebih pantas untuk dinikahi. Lambat laun, rasa iri pada saudarinya pun berubah dan berkembang menjadi rasa benci. Saat rasa bencinya sudah memuncak, ia memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyingkirkan Candra Kirana dari kerajaan.

Dewi Galuh pun diam-diam menemui seorang penyihir jahat untuk membantu rencananya. Dewi Galuh meminta pada sang penyihir untuk mengubah saudarinya menjadi sesuatu yang menjijikan, sehingga calon suaminya membatalkan pernikahan mereka dan memilih dirinya. Sang penyihir pun menyetujuinya, tapi sang penyihir tidak bisa mengutuknya secara langsung karena ia tidak bisa masuk ke dalam istana. Akhirnya, Dewi Galuh terpikir untuk memfitnah Candra Kirana, sehingga ia harus keluar dari istana.

Saat Candra Kirana pergi keluar istana, ia bertemu dengan sang penyihir! Candra Kirana pun diubah menjadi seekor keong berwarna emas. Namun, semua kutukan bisa dibatalkan—termasuk yang satu ini. Sang penyihir memberi tahu Candra Kirana kalai kutukan ini bisa dibatalkan jika Raden Inu Kertapati dan dirinya bertemu. Tentu saja Candra Kirana merasa putus asa, karena satu-satunya cara agar ia bisa kembali menjadi manusia terdengar tidak bisa dilakukan.

Lalu pada suatu hari, ada seorang nenek yang sedang mencari ikan menggunakan jala. Candra Kirana atau Keong Mas ikut tersangkut di dalam jala tersebut. Sang nenek pun terkejut karena menurutnya keong ini terlihat sangat cantik. Akhirnya, sang nenek ini merawatnya, memberinya makan, agar ia tidak mati.

Keesokan harinya, sang nenek kembali ke sungai untuk mencari Ikan. Namun, tidak satu pun yang ia dapatkan. Karena sudah terlalu lama tapi tidak mendaptkan hasil. Ia pun segera memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat ia sampai di rumah. Ia sangat terkejut karena ia melihat makanan yang sangat enak sudah tersedi di atas mejanya. Ia merasa sangat heran dan bertanya-tanya siapa yang sudah membuatkan makanan ini.

Kejadian seperti ini terus terjadi di hari-hari berikutnya. Karena merasa penasaran, sang nenek memutuskan untuk berpura-pura pergi ke laut. Padahal sebenarnya, ia hanya ingin mengintip siapa yang akan datang ke rumahnya dan menyiapkan makanan-makanan enak itu. Nenek pun terkejut! Yang nenek lihat adalah Keong Mas yang ia simpan berubah menjadi seorang gadis cantik jelita yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Sang nenek pun langsung kembali masuk ke dalam rumah dan bertanya pada Keong Mas.

“Wahai gadis cantik, siapakah dirimu?” Tanya nenek dengan nada penasaran. Candra Kirana pun menjelaskan siapa dirinya sebenarnya dan mengapa ia berubah menjadi seekor keong. Setelah ia usai menjelaskan, Candra Kirana kembali berubah.

Di sisi lain, Raden Inu Kertapati terus mencari calon istrinya. Ia merasa sangat kebingungan ke mana calon istrinya pergi dan mengapa ia tidak meninggalkan pesan apa pun. Namun, Raden Inu Kertapati juga sangat yakin bahawa Candra Kirana masih hidup, karena itu ia tidak menyerah mencarinya.

Sang penyihir akhirnya mengetahui bahwa sang pangeran belum henti juga mencari Candra Kirana. Ia pun menyusun rencana agar sang pangeran tidak akan menemukannya. Sang penyihir pun berubah menyamar menjadi seekor burung gagak.

Saat berada di perjalanan, sang pangeran bertemu dengan burung gagak ini. Burung gagak ini memberi tahu di mana sebaiknya sang pangeran mencari Candra Kirana. Raden Inu Kertapati sangat senang karena ia merasa mendapatkan bantuan, dan ia pun mengikuti burung gagak itu ke mana pun ia pergi.

Namun, lama-lama Raden Inu Kertapati merasa kebingungan dengan jalan yang ditempuh karena ia merasa perjalanannya sudah sangat panjang tapi ia tidak juga sampai di tujuan. Lalu, ia bertemu dengan seorang kakek yang sakti. Ternyata, kakek ini adalah seorang yang sakti dan tahu bahwa burung itu adalah penyihir. Sang kakek pun memukulnya dengan tongkat dan burung itu berubah menjadi asap.

Kakek tersebut memberikan petunjuk pada Raden Inu Kertapati di mana sebaiknya ia mencari calon istrinya. Saat Raden Inu Kertapati sedang berjalan mengarah ke Desa Dadapan, perbekalannya habis dan ia sangat haus. Lalu, ia melihat sebuah rumah di ujung arahnya dan ia berharap ia bisa mendapatkan minuman atau makanan di sana.

Saat ia sampai di sana, ternyata bukan hanya air minum yang ia temukan! Ia melihat Candra Kirana sedang memasak dan menyiapkan makanan. Raden Inu Kertapati merasa sangat senang dan kutukannya pun berhasil dibatalkan. Akhirnya, Candra Kirana dibawa ke Kerajaan Daha bersama sang nenek yang sudah menolong calon istrinya. Di perjalanan, Candra Kirana menjelaskan semua hal yang terjadi dan mengapa ia berubah menjadi seekor keong. Dewi Galuh pun mendapatkan hukuman atas perbuatannya dan ia pergi ke hutan untuk melarikan diri.

Pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ini adalah semua hal buruk yang dilakukan seseorang akan terbongkar juga cepat atau lambat, tidak peduli seperti apa mereka menyembunyikannya. Karena itu, kita harus selalu bersikap baik pada semua orang, ya!

Mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada si kecil akan lebih mudah jika diberikan dalam bentuk cerita yang seru seperti ini. Selain itu, mereka juga bisa belajar berbagai macam kosakata yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya juga! Jika kalian membacakan si kecil sebuah cerita dengan bahasa asing, mereka akan lebih cepat memahami bahasa itu juga, lho.

Kini, beberapa tempat belajar bahasa asing pun juga sudah menggunakan metode seperti ini. Salah satunya adalah LingoAce. Di LingoAce, anak-anak akan belajar bahasa Inggris dan bahasa Mandarin dengan metode yang imersif. Mereka akan diajarkan bahasa asing menggunakan berbagai macam aktivitas yang interaktif, seperti bermain game, bernyanyi, membaca cerita seperti kisah ini, dan masih banyak lagi!

Yuk, ikutan kelas free trial LingoAce sekarang dengan klik link ini, dan follow Instagram LingoAce Indonesia di @lingoace.id untuk melihat keseruan lainnya!