Sejarah Lontong Cap Go Meh dan Kaitannya dengan Imlek

Kalian sudah pernah mencoba khas Tionghoa apa saja, nih? Sepertinya untuk mencoba semua makanan khas Tionghoa yang ada itu butuh waktu yang sangat banyak, ya, karena makanan khas Tionghoa itu ada banyak dan beragam sekali. Nah, karena hal inilah, Tiongkok memang dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan budaya.

Makanan khas Tionghoa yang sudah sering kalian dengar atau coba mungkin dim sum, bebek peking, chow mein, dan masih banyak lagi. Namun, kalau yang satu ini—lontong Cap Go Meh, kalian sudah pernah coba atau hanya dengar? Kalau belum, yuk, kenalan lebih jauh dulu dengan makanan khas Tionghoa yang satu ini!

Lontong ini pertama kali ditemukan di daerah pesisir Jawa, lebih tepatnya di Semarang pada abad ke-19. Saat itu, ada seorang imigran asal Tiongkok yang bertemu dan menikah dengan perempuan asli Jawa. Akibat pernikahan ini, terjadilah perpaduan antara dua budaya, Tiongkok dan Jawa.

Hidangan yang satu ini ternyata juga menjadi salah satu makanan yang selalu dihidangkan di Hari Raya Imlek, lho! Ternyata, ada cerita panjang di balik makanan lontong ini. Lontong Cap Go Meh itu bukan hanya sekadar lontong yang disirami dan dilapisi sayur gurih. Lontong Cap Go Meh juga dipercaya sebagai salah satu simbol keberuntungan,

Lontong ini memiliki berbagai macam isian, seperti lodeh terong, sambal goreng hati, kentang, opor ayam, dan telur pindang. Bahkan, racikan lontong Cap Go Meh yang khas Semarang juga dilengkapi dengan daging abing serta ditaburi serundeng dan bubuk kedelai. Hmm, nikmat sekali, ya, sepertinya!

Nyatanya, tiap lauk dari lontong Cap Go Meh itu memiliki arti dan makna simbolis untuk masyarakat Tionghoa. Seperti, lontongnya yang dibungkus daun pisang dan berbentuk panjang dianggap sebagai simbol panjang umur. Telur yang dimasak pindang dan opor yang berwarna kuning karena diracik dengan kunyit melambangkan sumber rezeki.

Warna kuning keemasan pada lontong ini dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kekayaan—yang tentunya seperti perayaan Imlek, warna emas atau kuning merupakan warna keberuntungan. Dengan menghidangkan dan memakan lontong Cap Go Meh pada Hari Raya Imlek, masyarakat Tionghoa percaya bahwa mereka akan mendapatkan keberuntungan, rezeki, dan kemakmuran.

Bukan hanya lauknya yang memiliki filosofi, penyajian lontong ini juga memiliki makna mendalam, lho! Saat menyajikan lontong Cap Go Meh, piring yang menjadi wadah harus terisi penuh, menjulang tinggi, dengan berbagai lauk dan kuah yang melimpah.

Hal ini terinspirasi dari tradisi orang Jawa yang biasanya makan dan minum dalam porsi yang sangat banyak sebagai bentuk rasa syukur. Nah, kalau masyarakat Tionghoa, menyantap lontong Cap Go Meh dengan piring terisi penuh adalah sebuah tanda mereka berdoa dan mengharapkan rezeki yang melimpah.

Nah, keren banget, ya, dari sebuah makanan lontong saja ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari masyarakat Tionghoa dan budayanya. Adat dan budaya yang mereka jalankan memang sangat unik dan beragam. Ada banyak sekali hal lainnya yang berhubungan dengan adat Tionghoa yang bisa dipelajari. Apakah kalian ingin si kecil mempelajari hal-hal unik lainnya soal adat ini?

Ada tempat belajar seru yang bisa si kecil ikuti untuk mempelajari hal-hal ini, lho! Kalian bisa ajak mereka untuk belajar di LingoAce! LingoAce adalah platform e-learning bahasa Mandarin untuk anak usia 6 hingga 15 tahun.

Yang membuat platform belajar ini berbeda adalah guru-guru yang mengajar di sana adalah guru native speaker bersertifikat dengan berbagai kurikulum yang sudah terakreditasi secara global yang bisa beradaptasi dengan kemampuan belajar tiap anak. Program belajarnya pun juga sangat interaktif dan dipenuhi permainan-permainan seru, lho!

Kalau penasaran, langsung saja ikut kelas free trial bahasa Mandarin di LingoAce agar mereka bisa lihat langsung seperti apa keseruannya!