Sejarah dan Budaya 4 Suku Tionghoa Terbesar di Indonesia

Ada banyak sekali suku dan budaya yang sudah memasuki wilayah Indonesia sejak zaman dahulu. Salah satunya adalah suku dari Tionghoa, dan beberapa suku Tionghoa terbesar yang kini ada di Indonesia adalah Hokkian, Khek/Hakka, Tiociu, dan Kanton yang daerahh asalnya adalah dari Tiongkok Daratan.

Mereka memiliki bahasa, masakan, hingga kulturnya yang berbeda dengan satu dan lainnya. Jadi, jangan mengira masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia itu semuanya berasal dari suku yang sama, ya! Yuk, kita lihat kelima suku Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia!

1. Suku Hokkian

Suku Hokkian berasal dari provinsi Fujian yang berada di bagian tenggara-selatan Tiongkok. Masyarakat Hokkian juga menyumbang banyak kosakata dalam bahasa di kehidupan sehari-hari kita semua. Yang umumnya sering kita dengar dalam pergaulan adalah: Becak, kuli, amsiong, mak comblang, gotong, dan masih banyak lagi tentunya. Masyarakat suku Hokkian umumnya berada di daerah Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Medan, Surabaya, Bali, Banjarmasin, Kutai, Makassar, Kendari, Manado, Ambon, dan tentunya Jakarta. Namun, enggak menutup kemungkinan mereka juga tersebar di berbagai daerah Indonesia yang lain untuk mencari pekerjaan atau tempat tinggal selain tempat lahir mereka, ya. Makanan khas suku Hokkian juga berfokus pada rasa umami, cara mereka memasak untuk mendapatkan rasa yang autentik biasanya dengan cara mengkukus, merebus, braising, dan stewing.

2. Suku Khek atau Hakka

Suku Khek atau Hakka dikenal oleh banyak orang sebagai orang 客家 atau kèjiā yang artinya adalah “keluarga tamu”. Saat suku asal Tiongkok lainnya dinamakan berasal dari nama daerah asli mereka, orang Khek atau Hakka lebih dikenal sebagai “pendatang” karena mereka sering berpindah-pindah. Asal-usul suku Hakka ini juga belum diketahui secara pasti sejarahnya. Dahulu, suku Hakka sering mendapatkan ujaran kebencian dan diskriminasi dari suku Tiongkok lainnya. Di masa pemerintahan Dinasti Qing, terdapat peristiwa genosida anti-Hakka yang telah membunuh 30.000 orang Hakka per harinya. Lebih seramnya, ini bukan kejadian mengerikan satu-satunya yang terjadi pada suku Hakka. Namun, kini sudah berubah masyarakat Hakka tentu sudah tidak mendapatkan perilaku diskriminasi lagi dari suku mana pun. Suku Hakka yang ada di Indonesia umumnya tersebar di Aceh, Belitung, Bangka, Kalimantan Barat, dan tentunya Jakarta. Biasanya, keluarga suku Hakka bekerja sebagai pemilik toko dan rumah makan. Untuk masakan dari suku yang satu ini, biasanya makanan yang khas dari mereka didominasi rasa asin dan tumis-tumisan gurih.

3. Suku Tiociu

Suku dari Tiongkok yang satu ini berasal dari Chaoshan. Suku Tiociu sebenarnya sangat mirip sekali dengan suku Hokkian. Orang-orang Tiociu yang tersebar di Indonesia umumnya berada di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pontianak, Ketapang. Namun, tentunya banyak dari mereka yang sudah bermigrasi ke kota-kota besar di Ibukota. Masakan yang khas dari suku Tiociu adalah perpaduan masakan Kanton dan Hokkian. Makanan orang Tiociu umumnya memiliki tekstur yang lembut karena biasanya dimasak dengan cara dikukus dan direbus.

4. Suku Kanton

Suku yang satu ini umumnya tersebar di Jakarta, Medan, Makassar, dan Manado. Umumnya, orang-orang suku Kanton datang ke Nusantara bekerja sebagai tukang kayu, tukang jahit, membuka tempat makan, atau menjadi tukang foto. Nah, kalau makanan yang khas dengan suku Kanton tentunya kalian sudah familier—dim sum, kalian pasti pernah mencobanya, kan?

Ini dia beberapa suku Tionghoa yang terbesar di Indonesia. Tentunya masih ada banyak cerita sejarah dan cerita unik lainnya mengenai suku ini selain yang tertulis di atas ini. Apakah kalian ingin si kecil belajar lebih banyak tentang budaya Tionghoa? Ada banyak cara seru yang menarik dan enggak membosankan untuk anak-anak belajar budaya Tionghoa, kok!

Di LingoAce, anak-anak bisa mendapatkan semua yang mereka butuhkan. Mereka akan belajar bahasa Mandarin beserta budaya-budayanya dengan cara yang sangat seru! Di sana, mereka akan diajarkan oleh tenaga pengajar yang sudah sangat profesional dan berpengalaman.

Guru-gurunya adalah native speaker yang sudah memiliki banyak pengalaman mengajar sebelumnya. Mereka sudah terlatih untuk mengajar anak-anak usia SD hingga SMP dengan berbagai macam pendekatan agar anak merasa nyaman saat belajar. Kurikulum yang digunakan LingoAce juga bukan sembarang kurikulum. LingoAce mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tim LingoAce yang sudah sangat ahli.

Kurikulum yang LingoAce gunakan sudah terakreditasi secara global dan bisa menyesuaikan pelajarannya dengan kemampuan tiap anak. LingoAce Indonesia memiliki dua jenis kurikulum, yaitu Kurikulum International dan Kurikulum Singapore. Jika anak belum bisa bahasa Mandarin sama sekali atau belum pernah belajar bahasa Mandarin  sebelumnya, Kurikulum International akan lebih disarankan karena anak akan diajarkan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sedangkan anak yang sudah pernah belajar bahasa Mandarin akan disarankan mengikuti program belajar Kurikulum Singapore.

Selain itu, sebelum anak-anak mengikuti kelas bahasa Mandarin di LingoAce, kalian bisa mengikuti kelas free trial terlebih dahulu!

Di dalam kelas free trial ini anak-anak akan dilihat sejauh mana kemampuan bahasa Mandarin mereka dan juga akan mendapat laporan khusus tentang kelebihan mereka dan bagian mana yang bisa harus mereka tingkatkan.

Jika Anda memiliki anak usia 6 hingga 15 tahun yang ingin bisa bahasa Mandarin, jangan ragu untuk mendaftarkan mereka ke LingoAce, ya!