4 Dampak Negatif Media Sosial bagi Remaja

Jejaring sosial adalah bagian dari kehidupan manusia modern. Platform seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah merevolusi cara kita terhubung dengan satu sama lain dan digunakan oleh satu dari empat orang di seluruh dunia. Tetapi masalahnya, apakah kita telah cukup lihai dalam melihat risiko yang ditimbulkannya?

Sebuah studi yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa ada dampak kesehatan mental yang buruk pada para remaja yang menggunakan sosial media, terutama Instagram. Namun, tidak hanya dalam satu dimensi saja, sosial media juga memiliki beberapa dampak negatif berikut ini:

1. Kecemasan dan Depresi

Satu dari enam remaja disinyalir akan mengalami gangguan kecemasan, dan tingkat kecemasan serta depresi ini meningkat sebesar 70% pada mereka yang menggunakan media sosial secara rutin. Penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima remaja mengatakan bahwa penggunaan jejaring sosial menyebabkan perasaan cemas mereka memburuk.

Melihat teman-teman yang terus-menerus berlibur atau menikmati waktu mereka, bisa membuat para remaja ini merasa kehilangan sesuatu sementara mereka yang lain menikmati hidup. Pengalaman ini dapat mempromosikan perasaan membandingkan dan menimbulkan efek keputusasaan.

Gambaran yang sering tidak realistis yang ditawarkan di media sosial juga dapat menyebabkan para remaja memiliki perasaan rendah diri dan mengejar perfeksionisme yang dapat bermanifestasi sebagai gangguan kecemasan.

2. Terganggunya Jadwal Tidur

Tidur dan kesehatan mental sangat berkaitan erat. Tidur sangat penting bagi remaja, karena periode istirahat ini adalah waktu kunci untuk perkembangan mereka. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas tidur yang buruk pada para remaja.

Menggunakan media sosial melalui ponsel, laptop, dan tablet di malam hari sebelum tidur juga terkait dengan kualitas tidur yang buruk. Diperkirakan bahwa penggunaan lampu LED sebelum tidur, dapat mengganggu dan menghalangi proses alami di otak yang memicu rasa kantuk, serta pelepasan hormon tidur, melatonin.

3. Perundungan

Bullying selama masa remaja merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah masalah, termasuk kesehatan mental. Munculnya media sosial telah membuka gerbang komunikasi tanpa batas antar para remaja. Meskipun banyak dari interaksi digital ini bersifat positif, namun kanal interaksi ini juga memberikan peluang perundungan untuk terjadi bahkan ketika seseorang tidak secara fisik berada di area yang sama.

3. Ketakutan Ketinggalan Tren (FOMO)

FOMO merupakan akronim dari fear of missing out yang secara lepas diartikan sebagai ketakutan ketinggalan akan sebuah tren. Ungkapan tersebut menggambarkan bentuk kecemasan yang muncul akibat mewabahnya penggunaan media sosial.

Intinya, FOMO dicirikan oleh kebutuhan untuk selalu terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain, agar tidak ketinggalan tren apa pun. Dampak ini secara khusus membuat para remaja terkadang rela untuk melakukan beberapa hal absurd yang bahkan dapat membahayakan nyawa mereka.

Media sosial bukan hanya tentang dampak negatif karena memang faktanya dunia online juga memiliki sisi positif yang sangat signifikan. Kunci utamanya ada pada peran orang tua yang lebih peduli tentang perkembangan anak mereka. Jika merasa diperlukan, tidak ada salahnya untuk menginjeksikan sesi belajar tambahan dalam bentuk kursus belajar bahasa asing.

Khusus untuk bahasa Mandarin, kini AyBun dapat menggunakan jasa LingoAce. Startup EduTech yang telah dikenal seantero dunia ini adalah salah satu dari segelintir tempat les bahasa Mandarin online yang fokus dalam mengamati dan memahami profil murid.

Tiap anak yang telah terdaftar nantinya bukan hanya dianggap sebagai objek belajar tapi juga akan diperhatikan kemampuan bahasanya, perubahan gaya belajar, kebutuhan emosional, dan sosial, serta suasana belajar yang sesuai.

Selain itu, LingoAce juga memiliki fitur empat-ke-satu dimana setiap anak akan dipandu oleh Course Consultant, Learning Advisor, guru native speaker, dan Operation Specialist. Pendekatan ini sengaja dipilih platform e-Learning ini untuk menyediakan suasana belajar yang berkualitas, kondusif dan imersif.

Gimana? Kapan lagi bisa belajar bahasa Mandarin dengan guru native speaker hanya dengan modal Rp 83 ribu saja. Yuk, cobain dengan mendaftar di kelas free trial LingoAce sekarang juga!