
Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya dipikirkan anak Anda ketika ia tersenyum kepada Anda dengan begitu ramahnya? Bukan, ini bukan hanya sekadar tentang makanan dan waktu tidur mereka. Faktanya, ada lebih banyak hal yang terjadi di otak anak-anak kita pada tiap detiknya. Tapi, apa, sih, yang sebenarnya terjadi? Dan, benarkah anak-anak dapat menggunakan persentase fungsi otak yang lebih besar dibandingkan orang dewasa?
Lalu, bagaimana kita, sebagai orang tua, bisa membantu mereka mengembangkan potensi besar ini? Memang, khusus tentang perkembangan otak anak, ada banyak sekali pertanyaan untuk para orang tua. Nah, setidaknya tiga fakta menarik tentang perkembangan otak anak ini dapat membantu.
1. Otak anak memiliki kekuatan dua kali lipat
Satu hal yang pasti, anak-anak belajar dengan sangat cepat. Tentu saja, otak anak juga berkembang dalam tahapan besar. Pada usia dua tahun, anak-anak sudah memiliki sinapsis sebanyak orang dewasa. Koneksi antara sel-sel saraf di otak ini juga bertanggung jawab untuk memproses dan menyimpan informasi. Namun, anak-anak sebenarnya dapat melakukan lebih dari yang kita bisa. Hanya satu tahun kemudian, pada sekitar mereka berusia tiga tahun, jumlah sinapsis mereka meningkat menjadi dua kali lipat. Tapi, pada usia 10 tahun, jumlah sinapsis menjadi berkurang dan tetap konstan sejak saat itu.
2. Ternyata, embrio memiliki kemampuan berpikir
Bukan hanya otak balita yang bisa melakukan hal-hal hebat. Tepatnya saat masih berusia delapan minggu setelah pembuahan, otak telah dibuat dan langsung mulai bekerja! Perlahan, dengan semakin banyak sel saraf yang terbentuk, maka semakin pintar embrio dalam menyerap berbagai informasi. Para peneliti telah membuktikan bahwa embrio dapat merasakan suara bahasa ibu dan juga bereaksi terhadap musik. Skala ini dapat diukur dengan detak jantung dan pola gerakan yang terlihat pada ultrasound. Pembagian sel saraf yang terus meningkat bahkan memberikan embrio kemampuan untuk menyimpan informasi dan mengenali suasana hati.
3. Cara mengelola kemampuan daya serap informasi anak
Dengan level adopsi informasi yang sangat tinggi, usia anak mulai dari 6 hingga 15 tahun dianggap sebagai golden age untuk mengajarkan bahasa asing. Kemampuan linguistik telah dipercaya menjadi salah satu fondasi paling krusial untuk dipersiapkan sejak dini, mengingat era globalisasi yang semakin cepat.
LingoAce menjadi salah satu pionir utama dalam ranah kursus bahasa asing online. Platform yang secara khusus fokus pada pembelajaran bahasa Mandarin ini memiliki pendekatan yang autentik dan menarik. Tidak tanggung-tanggung, startup yang sudah memiliki 300 ribu siswa ini sangat detail dalam menyiapkan semua faktor untuk menjalankan kursus bahasa Mandarin yang efisien.
Pertama, tenaga pendidik yang bekerja di LingoAce semuanya adalah native speaker. Selain itu, para guru di perusahaan e-learning ini juga sudah melewati tes Ujian Kemampuan Putonghua dengan nilai minimum "2-A".
Kedua, varian kurikulum yang tersedia di LingoAce juga disiapkan untuk mengakomodir semua peserta didik. Khusus di Indonesia, LingoAce menyediakan dua pilihan kurikulum; Kurikulum International dan Kurikulum Singapore. Kedua kurikulum ini memiliki silabus yang berbeda, karena LingoAce ingin menyesuaikan program belajarnya dengan kemampuan tiap anak muridnya.
Yang terakhir, tentang program belar LingoAce, LingoAce menyiapkan tiga opsi program dengan harga mulai dari Rp 83 ribu. Tersedia kelas reguler, intensif, dan privat. Ketiganya didukung dengan teknologi terbaru dalam media pembelajaran bahasa Mandarin, lho!
Penasaran? Makanya, jangan tunda lagu dan segera daftarkan si kecil ke kelas free trial gratis LingoAce!



