Kembali

3 menit waktu baca

6 Efek Kecanduan Makanan Manis terhadap Anak

By ID LingoAce Team |Indonesia |July 3, 2023

Parenting
blog-images

Bukan hanya anak-anak, bahkan orang dewasa pun juga terkadang tidak bisa mengontrol keinginan mereka saat melihat makanan atau minuman manis. Padahal, jika seseorang mengonsumsi terlalu banyak, ada risiko jangka pendek dan jangka panjang yang mungkin saja terjadi. Karena itu, sebagai orang tua, coba batasi asupan makanan manis anak, ya, parents! Bukan berarti tidak boleh, kok, dimakan sesekali tentu saja tidak apa-apa, bisa sebagai reward jika si kecil berhasil mencapai sesuatu atau hadiah lainnya. Namun, jangan diberikan setiap hari atau dalam porsi yang terlalu banyak, ya! 

Jika kalian terlalu sering memberikan mereka atau membiarkan mereka makan makanan manis, si kecil bisa saja mengalami beberapa hal di bawah ini yang tentu saja kalian tidak mau, kan? 

1. Memengaruhi perilaku anak

Berdasarkan penelitian, makanan manis bisa memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkah laku anak, lho! Asupan gula yang terlalu banyak mampu memicu kenaikan gula darah secara drastis yang akhirnya membuat si kecil hiperaktif—yang berarti si kecil akan mengalami peningkatan gerakan, tindakan impulsif, serta mudah terdistrasksi karena hal-hal yang bisa dibilang sepele.

2. Batuk dan sesak nafas

Parents, ternyata ada juga, lho, beberapa anak yang terlihat sehat dan sebelum tidur pun juga terlihat baik-baik saja. Namun, menjelang tengah malam, mereka bisa terbangun karena batuk yang sangat parah hingga sesak nafas karena suka mengonsumsi makanan atau minuman manis sebelum tidur—meminum susu coklat hangat, misalnya. Produk susu dan gula mampu membuat proses pencernaan menjadi lebih lama dan membuat kandungan asam menjadi tinggi. Karena itu, sebelum anak tidur, pastikan mereka tidak baru saja mengonsumsi makanan atau minuman manis, ya!

3. Kekebalan tubuh yang menjadi lemah

Ada banyak bakteri baik yang ada di tubuh manusia. Bakteri baik ini berfungsi untuk mencerna makanan, memproduksi vitamin, dan melindungi tubuh dari kuman serta penyakit. Namun, jika seorang anak mengonsumsi gula dalam jumlah yang berlebihan, gula ini mampu mengubah keseimbangan antara bakteri baik dan jahat, yang akhirnya akan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, jika kalian melihat si kecil diserang batuk atau pilek, segera kurangi asupan gula mereka, ya, bisa jadi hal itulah yang menjadi salah satu pemicu.

4. Kerusakan gigi

Hal ini sepertinya sudah menjadi suatu hal yang paling umum diketahui banyak orang jika anak-anak mengonsumsi terlalu banyak makanan manis. Namun, kalian sudah tahu alasan di balik ini semua atau belum? Hal ini dikarenakan, gula yang mengumpul di celah-celah gigi bisa masuk ke dalam mulut yang akan bercampur dengan bakteri mulut. Jika ini tidak segera dibersihkan, gigi si kecil bisa jadi berlubang dan bahkan bisa saja menyebabkan kerusakan yang permanen, hingga gigi si kecil jadi harus dicabut. Wah, jadi runyam sekali sepertinya, ya!

5. Obesitas

Gula adalah salah satu makanan yang nutrisinya rendah tapi kalorinya sangat tinggi. Jika si kecil banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis, kalori-kalorinya akan kian menumpuk di dalam tubuh. Hal lain yang harus kalian ketahui adalah, anak-anak cenderung mudah ketagihan makanan manis, sehingga mereka akan menginginkannya terus. Akhirnya, anak-anak yang sangat suka memakan makanan manis, akan berisiko tinggi mengalami obesitas. Jika seseorang sudah terkena obesitas, menurunkan berat badan akan menjadi sangat sulit dan bahkan cenderung beratnya akan terus meningkat hingga mereka menjadi dewasa.

6. Menurunkan kecerdasan anak

Sebuah penelitian berhasil membuktikan tingkat persentase anak yang banyak mengonsumsi gula memiliki kemampuan memahami sebuah informasi, mengucapkan informasi yang mereka ketahui, mengoordinasikan penglihatan saat beraktivitas, dan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah lebih rendah dibandingkan yang sedikit mengonsumsi gula.

Jadi, bagaimana cara untuk menghindari ini semua?

Jika anak sudah terbiasa mengonsumsi gula dalam jumlah yang banyak, tentu saja hal ini akan menjadi sebuah tantangan yang besar untuk kalian dan si kecil. Namun, sebaiknya kalian mulai mengurangi dari sekarang, ya! Hal-hal yang bisa kalian lakukan adalah mengganti gula—contohnya, jika anak menginginkan es krim, kalian bisa berikan yogurt plain yang sudah kalian bekukan, kurangi konsumsi cairan manis, dan ajak mereka berolahraga secara rutin.

Cara lain yang bisa kalian coba lakukan adalah membuat si kecil menjadi sibuk dengan aktivitas lainnya, sehingga mereka bisa terdistraksi selama beberapa saat dan tidak meminta makanan manis. Salah satu aktivitas atau kegiatan positif yang bisa memuat anak terdistraksi adalah dengan belajar. Namun, untuk membuat mereka lupa dengan gula, kalian tentunya perlu distrasksi yang jauh lebih menggiurkan, kan? Nah, kalian bisa mengajak si kecil untuk mencoba belajar bahasa Mandarin di LingoAce! Bersama LingoAce, anak-anak bisa bisa belajar bahasa Mandarin dan bahasa Inggris dengan cara yang seru dan interaktif. Hal ini dikarenakan LingoAce sudah menerapkan metode belajar yang imersif agar anak-anak bisa memahami materi pelajaran dengan lebih baik.

Guru-guru yang ada di LingoAce juga merupakan guru native speaker dengan banyak pengalaman mengajar dan pelatihan sebelumnya agar mereka bisa menyesuaikan diri mereka dengan kepribadian tiap anak yang mereka ajar. Selain itu, kurikulum LingoAce pun juga beragam dan semuanya sudah terakreditasi secara global!

Mau tahu seperti apa suasana seru kelas LingoAce? Kalian bisa mencoba kelas free trial LingoAce dengan

klik link ini dan mendapatkan satu sesi konsultasi gratis dengan tim LingoAce! 

Follow juga Instagram LingoAce Indonesia di @lingoace.id untuk melihat keseruan lainnya dan tips parenting

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​