Kembali

3 menit waktu baca

Contoh Gaslighting pada Anak yang Orang Tua Tidak Sadari

By ID LingoAce Team |Indonesia |May 16, 2023

Parenting
blog-images

Kata gaslight sedang cukup ramai diperbincangkan oleh banyak orang di media sosial. Biasanya, kata gaslight digunakan untuk menjelaskan sebuah hubungan asmara antara dua orang yang cenderung mengarah pada sebuah masalah karena arti dari gaslight ini sendiri adalah tindakan memanipulasi seseorang yang dianggap korban dengan cara membuat mereka mempertanyakan pikiran, perasaan, dan peristiwa yang tengah terjadi di antara mereka.

Namun, ternyata peristiwa gaslight ini enggak hanya bisa dialami oleh orang yang berhubungan asmara saja, lho. Hubungan antara orang tua dan anak juga bisa mengalami hal ini. Bahkan, biasanya orang tua lah yang cenderung lebih sering melakukan gaslight pada anaknya tanpa mereka sadari. Tentunya, tidak ada orang tua yang ingin secara sengaja menyakiti anaknya karena itulah terkadang orang tua melakukan ini di bawah alam bawah sadarnya. Parents, coba perhatikan beberapa contohnya di bawah ini agar kalian bisa menghindari perilaku-perilaku ini, ya!

  1. Orang tua tidak menepati janji dan tidak terima ketika anak protes Coba posisikan diri kalian di posisi mereka. Tentunya, kalian akan merasa kesal jika ada seseorang yang enggak menepati janji ke kalian, bukan? Si kecil bisa merasakan hal yang sama ketika mereka sudah diiming-imingkan atau diberikan janji tapi tidak ditepati. Seperti contohnya, kalian menjanjikan si kecil es krim jika mereka menghabiskan makanannya tapi nyatanya kalian lupa tidak membeli es krim, ketika si kecil memintanya kalian justru menjawab: “Yah, enggak sempat beli, mama sama papa, kan, sibuk. Kamu ngertiin, dong!” Wah, respons seperti ini justru akan membuat si kecil memendam perasaannya dan membuat mereka merasa bersalah. Padahal, memang bukan salah mereka sejak awal, kan?

  2. Mengabaikan perasaan anak Ketika anak merasa sedih atau kecewa, jangan larang mereka untuk menangis, ya, parents. Jika kalian mendorong anak untuk menahan rasa sedihnya saat mereka sedang kecewa, kalian akan memengaruhi perkembangan mentalnya ke arah yang kurang baik. Ketika mereka dewasa nanti, mereka malah akan terbiasa mengubur atau menyembunyikan perasaannya ketika mereka sedih yang akan berujung menjadi perasaan cemas. Jadi, ketika anak sedang merasa down, sebaiknya kalian tanyakan pada mereka apa yang sedang mereka alami dan bagaimana kalian bisa membantunya agar perasaan mereka bisa menjadi lebih baik lagi, ya.

  3. Meragukan pikiran dan imajinasi anak Anak yang pikirannya sedang berkembang akan memiliki imajinasi dan pikiran sangat luas, serta mereka bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang sangat unik. Karena sudut pandang mereka yang bisa menjadi unik dan agak berbeda dari orang dewasa pada umumnya, sebaiknya parents jangan langsung menghakimi jika mereka mengatakan atau membuat sesuatu yang berbeda dari pandangan kalian, ya. Seperti contohnya ketika si kecil membuat gambar pohon yang daunnya berwarna cokelat padahal daun berwarna hijau. Jangan katakan pada mereka: “Kamu ngasal, ya? Daun itu warnanya hijau!” Bisa saja pohon yang mereka lihat sebelum mereka menggambar adalah pohon yang dipenuhi oleh dedaunan kering. Jadi, coba untuk bertanya asal-usul dari apa yang mereka buat dulu, ya, parents.

  4. Menganggap orang tua selalu benar Jika berada dalam situasi bertentangan, sudah menjadi naluri manusia untuk membela dirinya sendiri dan menganggap dirinya benar. Namun, ketika kalian sudah menjadi orang tua, sifat seperti ini harus bisa dikurangi—sebaiknya dihilangkan, ya. Hanya karena kalian adalah orang tua anak dan lebih tua, tidak berarti kalian tahu semua hal dan kalian selalu benar. Tindakan seperti ini akan membuat anak terasa terabaikan dan akhirnya akan selalu mengalah. Selain itu, mereka nanti akan merasa takut menyampaikan pendapat mereka pada kalian karena mereka merasa takut ujungnya hanya akan kalian salahkan dan kalian koreksi. Sebaiknya, kalian dengarkan apa kata anak dan mencari jalan tengahnya yang tetap bisa menguntungkan kedua pihak agar anak merasa dihargai dan didengar oleh kalian, ya.

Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah. Ada banyak sekali hal yang harus kalian pertimbangkan agar anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat secara fisik serta mental. Namun, tenang saja, kalian bisa mendapatkan banyak sumber belajar dari internet atau buku, kok. Tidak ada orang yang langsung ahli dalam menjadi orang tua, semuanya butuh proses. Jadi, bersabar dan terus belajar agar kalian bisa memberikan si kecil yang terbaik, ya!

Salah satu tugas orang tua yang paling penting adalah selalu memberikan anak yang terbaik dari sisi kesehatan, kesenangan, hingga edukasi. Edukasi anak termasuk hal yang paling penting karena hal inilah yang akan menjadi bekal mereka saat mereka dewasa nanti. Karena itu, coba berikan edukasi bahasa asing untuk si kecil dari sekarang, yuk!

Kini, kalian bisa memberikan pembelajaran bahasa Mandarin yang autentik dan terbaik untuk si kecil yang berusia 6 hingga 15 tahun hanya dari rumah saja, lho! Bersama LingoAce, anak bisa belajar bahasa Mandarin bersama guru native speaker dan menggunakan kurikulum yang sudah terakreditasi secara global agar anak bisa mengetahui dan paham seperti apa berbicara bahasa Mandarin langsung dari ahlinya!

Mau tahu seperti apa serunya kelas bahasa Mandarin di LingoAce? Daftar kelas free trial sekarang di sini dan follow Instagram LingoAce Indonesia di @lingoace.id untuk lihat keseruan lainnya!

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​