Kembali

3 menit waktu baca

Asal-usul Festival Qi Xi, Hari Valentine bagi Masyarakat Tionghoa

By ID LingoAce Team |Indonesia |May 16, 2023

Trending
blog-images

Sepertinya semua orang sudah tahu kalau negara China memang sangat kaya akan sejarahnya yang panjang dan budayanya yang sangat beragam. Bahkan, di negara Tirai Bambu ini, mereka memiliki perayaan Valentine tersendiri, lho! Perayaan ini disebut dengan Festival Qi Xi yang bisa disebut juga dengan Qi Qiao. Festival ini adalah salah satu festival yang sangat penting bagi masyarakat Tionghoa, terutama para gadis muda.  

Festival ini dirayakan tepat di bulan 7 dan tanggal 7 dalam penanggalan Imlek. Biasanya, para gadis-gadis muda akan memohon dan berdoa agar keterampilan seni mereka bisa berkembang menjadi lebih baik dan bisa mendapatkan seorang suami yang baik bagi mereka. Hmm, menarik juga, ya, versi perayaan hari Kasih Sayang masyarakat Tiongkok! Alih-alih merayakannya dengan makan malam bersama kekasih atau mendapatkan cokelat dan bunga, justru para perempuannya berdoa untuk mendapatkan pasangan! 

Itu dia sekilas soal Festival Qi Xi, nah, kalau sejarah dan asal-usulnya tentu kalian jadi penasaran, kan? Lihat selengkapnya di sini, ya! 

Cerita Niu Lang dan Zhi Nu  Asal-usul festival ini sebenarnya berasal dari sebuah cerita rakyat yang sangat romantis tentang Niu Lang (牛郎), yang merupakan gembala sapi, dan Zhi Nu (织女), yang merupakan Gadis Penenun. Kisah ini merupakan salah satu dari empat kisah percintaan China. 

Alkisah pada zaman Dinasti Zhou, tepatnya di Desa Niu Jia, ada seorang pemuda yang sangat baik dan jujur. Namanya dalah Niu Lang. Sedihnya, kedua orang tua dari Niu Lang sudah meninggal dunia dan ia pun tinggal bersama kakak laki-lakinya dan kakak iparnya. Sayangnya kakak iparnya ini sangatlah kejam dan memaksa Niu Lang ini untuk melakukan semua pekerjaannya karena ia terlalu malas untuk melakukannya sendiri. 

Suatu hari di musim gugur, kakak ipar Niu Lang memintanya untuk menggembala sembilan ekor sapi tapi ia harus bisa membawa 10 ekor sapi saat ia pulang nanti. Hmm, hal ini tidak masuk akal, bukan? Namun, ia tetap menyanggupi kemauan kakak iparnya itu. Niu Lang pun membawa sembilan sapi itu ke dalam gunung yang dipenuhi rumput segar agar sapi-sapi yang ia bawa bisa makan dengan lahap. Sambil menunggu para sapi memakan rumput, Niu Lang duduk di bawah pohon dan memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan tambahan satu ekor sapi lagi. 

Tiba-tiba, ada seorang pria tua berambut putih yang berdiri di depan Niu Lang dan bertanya mengapa kamu terlihat sangat murung? Niu Lang pun bercerita pada pria tua itu soal kebingungannya. Pria Tua itu hanya tersenyum dan memberikan Niu Lang saran agar ia pergi ke Gunung Fu Niu. Di gunung itu, terdapat seekor sapi yang sedang sakit dan jika ia dirawat dengan baik, Niu Lang bisa membawa sapi itu pulang. 

Niu Lang sangat senang mendengar kabar itu. Ia seolah-olah mendapatkan secercah harapan dari masalah dan kebingungannya. Tanpa berpikir panjang, Niu Lang pun berangkat ke gunung tersebut dan ia bertemu dengan sapi tua yang sakit yang diceritakan oleh pria tua tadi. Niu Lang dengan sabar merawat sapi yang sakit ini. Ia kerap memberikannya makan dan minum agar tubuh sapi ini bisa cepat pulih.  

Beberapa hari kemudian, kesehatan sapi ini sudah sangat membaik, ia sudah bisa mengangkat kepalanya. Lalu, tidak disangka-sangka, sapi ini melihat ke arah Niu Lang dan ia memberi tahunya bahwa sebenarnya ia adalah Dewa Sapi Abu-abu yang tinggal di Alam Dewa atau Langit. Namun, Dewa ini pernah melanggar sebuah aturan dan ia pun dihukum sehingga ia harus turun ke Alam Manusia atau Bumi. 

Niu Lang pun terkejut dan sapi ini memberi tahu Niu Lang bahwa untuk membuatnya benar-benar kembali sehat, luka yang ada di kakinya harus dicuci dengan air yang berisi ratusan jenis bunga. Tanpa pikir panjang, tentu saja Niu Lang melakukannya. Dengan sabar dan telaten, Niu Lang mengurus sapi ini hingga satu bulan. Setelah itu, sapi ini akhirnya sembuh total dan ia ikut Niu Lang pulang ke rumahnya. 

Saat sampai di rumah, kakak ipar Niu Lang masih saja berperilaku jahat padanya. Bahkan, kakak iparnya sudah beberapa kali berusaha membunuh Niu Lang tapi berhasil digagalkan oleh sapi yang ia selamatkan. Akhirnya, Niu Lang diusir oleh kakak iparnya dan tidak boleh datang kembali selamanya. 

Niu Lang pun pergi meninggalkan rumah kakaknya dan kakak iparnya dengan hanya membawa sapi yang ia selamatkan. Mereka pun berkelana untuk mencari tempat tinggal dan mencari makan untuk kehidupan mereka sehari-hari. 

Hingga pada suatu hari, Zhi Nu atau Dewi Penenun bersama beberapa dewi lainnya bermain ke Bumi. Atas bantuan Dewa Sapi Abu-abu, Niu Lang berkenalan dengan Zhi Nu. Setelah itu, rasa cinta di antara mereka pun mulai tumbuh. Namun, tentu saja Zhi Nu harus kembali ke Langit bersama para dewi yang lain.  

Namun kemudian, Zhi Nu diam-diam turun kembali ke Bumi dan memutuskan untuk menjadi istri Niu Lang. Selain itu, Zhi Nu jga membawa ulat sutera dari Langit dan mengajari para manusia bagaimana cara memelihara ulat sutera yang kemudian bisa diambil benangnya dari ulat itu. Zhi Nu mengajarkan pada manusia bagaimana cara menenun kain yang cantik dan benar. 

Pernikahan mereka sangatlah bahagia, Niu Lang dan Zhi Nu memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Sayangnya, kebahagiaan mereka memang tidak bisa berlangsung lama karena Kaisar Langit akhirnya mengetahui persoalan ini. Permaisuri Kaisar Langit pun turun ke Bumi dan memaksa Zhi Nu untuk kembali pulang ke Langit. Sepasang suami dan istri ini pun sayangnya harus terpisah. 

Tentu saja Niu Lang sangat sedih dan bingung karena ia tidak tahu bagaimana cara mengejar istrinya ke Langit. Namun, tiba-tiba ia teringat kata-kata Dewa Sapi Abu-abu perihal sandal yang pernah ia buat dari kulit sapi tua itu bisa membantunya naik ke Langit. Niu Lang pun membawa kedua anaknya dan mengejar Zhi Nu ke Langit dengan membawa sandal itu. Begitu hampir sampai, Permaisuri Kaisar Langit menciptakan sebuah sungai langit yang luas untuk memisahkan mereka berdua.  

Niu Lang dan Zhi Nu yang dipisahkan oleh sungai langit tersebut hanya bisa menangis tidak berdaya. Kisah ini pun menyentuh hati puluhan juta burung-burung Murai yang akhirnya membentuk sebuah jembatan burung Murai untuk mempertemukan sepasang kekasih ini. Permaisuri Kaisar Langit tidak berdaya melihat kejadian tersebut, akhirnya menyetujui mereka berdua bertemu sekali dalam setahun yaitu setiap malam ke-7 pada bulan 7 menurut penanggalan Imlek. 

Karena hal inilah para gadis muda di China menatap langit dan mencari bintang Niu Lang (bintang Altair) dan bintang Zhi Nu (bintang Vega) dengan harapan bisa melihat pertemuan sepasang kekasih itu di langit. Selain itu, mereka juga berdoa agar mereka bisa mendapatkan pasangan yang setia dan baik seperti Niu Lang. 

Menyentuh sekali, kan, kisah asal-usul festival ini? Cerita tentang asal-usul festival di China atau budayanya yang lain memang sangat seru! Tentunya, anak-anak sangat menyukai cerita seperti ini, kalian ingin si kecil bisa tahu lebih banyak soal budaya Tionghoa? Ada tempat yang sangat tepat untuk kalian, nih! 

Di LingoAce, anak bisa belajar bahasa Mandarin sekaligus berbagai kisah menarik soal budaya Tionghoa dengan cara yang sangat menyenangkan. Selain itu platform e-learning bahasa Mandarin ini memang dikhususkan oleh anak-anak usia 6 hingga 15 tahun, sehingga para pengajar native speaker yang ada di LingoAce sudah dilatih khusus untuk mengajarkan anak-anak dan bisa membuat pembelajaran jadi lebih menyenangkan! 

Mau tahu lebih banyak soal kelas bahasa Mandarin di LingoAce? Konsultasikan saja dengan tim LingoAce dan daftar kelas free trial-nya juga, yuk! 

Untuk informasi lebih lengkap dan konten menarik lainnya, follow Instagram LingoAce Indonesia di @lingoace.id, ya!

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​