Kembali

3 menit waktu baca

Dongeng Anak dari Tiongkok: Sedekah dan Hinaan

By ID LingoAce Team |Indonesia |May 16, 2023

Trending
blog-images

Saat bertemu dengan orang baru, hal yang pertama kali dinilai biasanya adalah apa yang tampak dari orang tersebut dan sering terjadi ketika berada di luar rumah, melihat lalu-lalang orang di jalan, berada di dalam kendaraan umum, sekolah, kantor, dan masih banyak lagi.

Namun, penampilan yang terlihat dari seseorang tidak bisa menjadi patokan untuk menilai karakter dan sifat yang dimilikinya. Lho, kok enggak bisa? Padahal kan seperti melihat orang berpenampilan urakan bukannya lebih mudah untuk menyebut mereka nakal atau saat melihat orang dengan penampilan kumal lebih mudah menilai mereka adalah pengemis?

Ya, akan tetapi apa yang tampak di permukaan tak selalu mewakili apa yang tersembunyi di dalamnya, jadi jangan menilai hanya dari penampilan, ya. Persis seperti sebuah cerita dari negeri Tirai Bambu dengan pesan moral berharga untuk kita semua. Mau tahu, bagaimana isi ceritanya? Yuk, simak kisah dalam dongeng berjudul 'Harga Diri'.

Dikisahkan pada zaman dahulu kekeringan dahsyat melanda sebuah desa di negara Tiongkok, akibatnya sumber makanan menipis karena gagal panen dan penderitaan warga di desa kian memuncak saat kelaparan perlahan melanda.

Kondisi desa yang memprihatinkan terdengar sampai ke telinga warga desa lain. Banyak orang akhirnya merasa iba dan ingin menolong warga desa yang dilanda kekeringan.

Hingga akhirnya, seorang dermawan membantu para warga dengan menaruh makanan di tepi jalan setiap hari, agar warga bisa mengambilnya untuk mengisi perut. Dermawan itu tak tega melihat warga desa kelaparan dan menderita. Dan sebagai balasan, senyum manis penuh rasa syukur akan selalu warga beri pada si dermawan baik hati.

“Terima kasih banyak, Tuan, semoga kau berumur panjang,” ucap seorang nenek tua, dengan segenggam makanan di tangannya.  

“Terima kasih, Tuan, semoga kau selalu diberkati,” ucap warga lainnya, mengambil beberapa makanan untuk diri dan keluarga di rumah.  

Di tengah suka cita rupanya kebahagiaan tak utuh dapat dirasakan semua orang di dalam desa, karena beberapa warga justru tak mendapatkan jatah makanan. Mereka yang tak bisa makan terpaksa menahan lapar dan hidup dalam penderitaan berkepanjangan karena timpangnya jumlah makanan.  

Hal ini membuat seorang warga mau tak mau membuat keputusan berat untuk pergi meninggalkan desa dan mencari makanan ke tempat lain meski ia sendiri sejujurnya tak memiliki arah tujuan.  

Bermodalkan harapan mendapat nasib yang lebih baik, Pria itu keluar dari desa dan mulai menyusuri sepinya jalanan. Setiap langkah yang terayun diiringi harapan perutnya akan terisi dan rasa lapar bisa sirna walau sejenak, ia sangat berharap seseorang akan berbaik hati berbagi makanan dengan dirinya walau harus ditukar dengan menjadi pesuruh atau melakukan pekerjaan lainnya. 

Lama waktu berlalu, menit bahkan telah berganti jam, pun matahari nyaris berganti ufuk tetapi ia masih terus berjalan dan berjalan dengan sangat jauhnya hingga seluruh tenaga telah terkuras dan begitu telah.

Seolah tak memiliki pilihan di tengah harapan dan kondisi tubuh yang tak lagi memungkinkan untuk berjalan, ia memasakkan diri meneruskan langkah dibantu sebuah tongkat kayu untuk menopang tubuh. Tetapi, saat ia hampir menyerah, sebuah perkampungan mulai tampak. Raut bahagia tak bersembunyi di balik wajah kelelahan pria itu.

Di sisi lain, tanpa sengaja seorang warga dari perkampungan melihat pria dari desa seberang. Hati warga tersebut terenyuh dan merasa iba, tak perlu berpikir lama ia pun segera masuk ke dalam rumah, mengambil beberapa makanan serta minuman dengan maksud memberikannya pada pria dari desa seberang.

Setelah selesai membungkus makanan dan minuman yang dibutuhkan, warga tersebut berlari dengan tergesa ke luar rumah namun pria yang ia lihat sebelumnya sudah tak tampak.

“Ke mana dia pergi?” Ucapnya pada diri sendiri, seraya menengok ke sana dan kemari, hingga ia melihat punggung pria itu dari kejauhan. “Pengemis! Hey, pengemis! Tunggu sebentar... aku punya banyak makanan dan minuman untuk kau bawa, pengemis!” Teriaknya, masih berdiri di tempat yang sama.

Wajah warga itu terlihat kebingungan dengan pria dari desa seberang yang terus saja berjalan dengan acuh. Hingga akhirnya warga itu berlari ke arah pria dari desa seberang dan menghampirinya.

“Pengemis, mengapa kau tak berhenti saat aku memanggilmu? Coba lihat,” ujar warga itu menunjukkan beberapa makanan dan minuman yang ia bawa setelah berhasil menghentikan langkah pria dari desa seberang, “Aku punya banyak sekali makanan untuk dirimu. Kau bisa membawa dan memakannya,” lanjut warga itu dengan senyum manis mengembang.

“Tuan, aku bukan seorang pengemis, jangan menilai dari penampilanku. Kau bisa menyimpan makanan itu untuk dirimu sendiri karena sekali pun aku sangat kelaparan aku tidak akan pernah mengemis,” tandas Pria dari Desa seberang, kembali melanjutkan perjalanannya.

Warga desa itu terlihat begitu terkejut hingga ia terdiam sejenak dan mulai berpikir bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan besar dan merasa kecil hati karena niat untuk menolong justru berbalas amarah pria desa seberang yang kesal oleh sikapnya.

“Ma, maafkan aku, Tuan... Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu,” lirih warga itu, tak tahu lagi harus berbuat apa.

Tak ada tanggapan yang ia dapat, warga desa itu hanya berdiri membantu sementara pria dari desa seberang tak menggubrisnya dan mulai pergi menjauh. Sementara itu pria dari desa seberang tak ingin hanya karena menerima beberapa makanan ia harus dihina sebagai pengemis dan harga dirinya hancur. Ia lebih memilih kelaparan selama harga dirinya terselamatkan.

Wah... kalau kamu jadi warga desa apa yang akan kamu lakukan? Pasti serba salah juga, ya. Tapi, pesan moral yang bisa kita ambil untuk jangan menilai dari penampilan saja kepada siapa pun orang yang ditemui. Perlu banyak hal dan melihat dari segala sudut pandang untuk menilai seseorang, karena kita tidak tahu bagaimana karakter, sifat dan sikap seseorang hanya dari luar.

blog-images

Sumber foto: Unsplash

Tapi, kalau memperkaya diri dengan ilmu bermanfaat itu boleh banget, dong! Contohnya dengan belajar bahasa Mandarin sejak dini bersama LingoAce. Ada banyak tempat kursus bahasa Mandarin di Indonesia, lho, tapi kamu bisa percayakan anak untuk belajar hanya di LingoAce. Kenapa LingoAce? Karena LingoAce sebagai platfoarm e-learning bahasa Mandarin untuk anak usia 6-15 tahun, siap memberikan kurikulum dan metode belajar terbaik bagi si kecil.

Setiap kelas bahasa Mandarin di LingoAce Indonesia memiliki level yang disesuaikan dengan kemampuan anak usia 6-15 tahun. Tak perlu khawatir jika anak sama sekali belum mengenal bahasa Mandarin karena LingoAce Indonesia menyediakan kurikulum IN atau International dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, tetapi jika anak sudah memiliki dasar dalam bahasa Mandarin maka kurikulum SG atau Singapore menjadi pilihan tepat untuk meningkatkan kemampuan karena menggunakan bahasa pengantar Mandarin. LingoAce juga memakai jasa native speaker bahasa Mandarin profesional, sehingga metode mengajar menjadi tepat dan sesuai. Harga yang ditawarkan pun bisa kamu pilih sesuai kemampuan dan keinginan, yuk, cek daftar harganya dengan klik pada tautan di bawah ini:

Cakap dalam berbahasa Mandarin bisa digunakan untuk investasi masa depan. Lho, kok bisa? Karena pertumbuhan ekonomi negara Tiongkok yang semakin meningkat, tidak menutup kemungkinan akan terdapat banyak lowongan pekerjaan yang ditawarkan negara Tiongkok melalui berbagai macam perusahaan di bawah naungannya di masa mendatang. Maka, kemampuan bahasa Mandarin akan sangat membantu untuk meniti kariermu.

Yuk, gabung dan dapatkan berbagai promo menarik dari LingoAce. Jika, mengajak teman, kerabat, kenalan atau orang terdekatmu untuk mendaftar kamu bisa mendapatkan keuntungan fee atau voucher sebesar 15% dari harga paket yang diambil oleh orang yang kamu daftarkan loh! Bisa save uang kan jadinya. Klik tautan di bawah untuk melakukan pendaftaran.

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​