Kembali

3 menit waktu baca

Mengapa Orang Tionghoa Memakai Pakaian Putih Saat Berkabung?

By ID LingoAce Team |Indonesia |May 16, 2023

Trending
blog-images

Dalam budaya Tionghoa, sangat lazim ditemukan campuran kepercayaan tradisional yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, dan sikap yang lebih modern dalam mencerminkan asimilasi ide-ide yang lebih baru. Keyakinan dan praktik di Tiongkok yang berkaitan dengan kematian setidaknya telah dipengaruhi oleh tiga agama dominan di negara itu: Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha.  

Meskipun sederet revolusi yang dimulai tahun 1949 hingga 70-an membuat hampir tidak mungkin untuk mempraktikkan agama di Tiongkok, namun nilai-nilai dan adat istiadat dari ketiga agama tersebut telah meresap ke dalam budaya negara ini. Setidaknya, konfusianisme dan Taoisme memiliki dampak terbesar pada pemikiran dan praktik filosofis tentang hidup dan mati. 

Kematian dalam Budaya Tionghoa 

Meskipun melihat kematian sebagai bagian alami dari kehidupan, orang Tionghoa berpikir bahwa berbicara tentang kematian akan mengganggu keharmonisan batin yang untuk mereka sangat penting untuk dijaga. Jadi, orang Cina berusaha untuk menghindari bahkan memikirkan kematian. 

Kebanyakan orang Tionghoa, khususnya generasi yang lebih tua, percaya bahwa kematian di rumah akan membawa nasib buruk bagi keluarga. Mereka juga percaya bahwa kematian akan menyulitkan mereka untuk menjual rumah kepada orang Tionghoa lainnya.  

Jika orang tersebut meninggal di rumah, maka keluarga perlu membersihkan energi kehidupan yang stagnan atau negatif yang mungkin tertinggal. Proses ini mungkin akan melibatkan membuka semua jendela, menghapus foto almarhum, menyapu, dan kemudian mencuci lantai dan dinding secara menyeluruh, bahkan mengecat ruangan.  

Warna dan Kematian dalam Budaya Tionghoa 

Di rumah orang yang meninggal, semua patung akan dilapisi kertas merah. Sebagai catatan,  merah adalah warna keberuntungan dan vitalitas. Sebuah kain putih akan digantung di luar pintu depan rumah untuk mengumumkan bahwa keluarga tersebut sedang berkabung. Putih juga merupakan warna yang melabangkan kemurnian, keberanian, kekuatan namun juga kerap digunakan saat berkabung. 

Adat istiadat Tionghoa menyatakan bahwa sebelum mayat ditempatkan di peti mati, mereka akan dicuci dengan hati-hati, ditaburi bedak, dan kemudian dikenakan pakaian terbaik. Pakaiannya tidak akan berwarna merah karena itu akan menyebabkan orang tersebut dapat menjadi hantu.  

Seorang wanita dari etnis Tionghoa akan sering dikubur dengan perhiasan, terutama batu giok. Sementara kaum pria kemungkinan akan dikuburkan dengan koin. Wajah mereka yang meninggal juga akan ditutupi dengan kain kuning, yang merupakan warna Buddhis dan mewakili kebebasan dari masalah duniawi. Tubuh mayat juga mungkin akan ditutupi dengan kain biru, yang mewakili harmoni dan keabadian. 

Orang Cina secara tradisional mengenakan pakaian putih ke pemakaman. Namun hari ini, mereka yang lebih kebarat-baratan akan mengenakan pakaian hitam. Kebiasaan ini akan bervariasi dari satu keluarga ke keluarga lain tergantung pada orientasi anggota keluarga, kepatuhan mereka terhadap tradisi, dan tingkat asimilasi dengan budaya asing dalam menghadapi kematian.  

Keberagaman Budaya Tiongkok 

Komponen terbesar dalam budaya Tionghoa adalah bahasanya, dan untuk belajar bahasa Mandarin, tentunya hanya LingoAce tempatnya! Platform EdTech kelas dunia ini tidak hanya menyajikan layanan terbaik untuk anak umur 6 sampai 15 tahun. Akan tetapi semua konsep yang diajarkan akan dibalut dengan cinta kasih serta dedikasi penuh para guru native speaker

Para guru di LingoAce memiliki pengalaman mengajar selama bertahun-tahun. Semua tenaga didik ini juga memiliki kemampuan menyesuaikan kurikulum dengan tingkat kemampuan, kecepatan, gaya belajar, dan latar belakang budaya setiap peserta didik. Hasilnya adalah setiap anak yang bergabung ke LingoAce dengan mendaftar ke link ini akan mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kemampuan bahasa Mandarin mereka. 

Ayo, gabung sekarang juga ke situs kursus bahasa Mandarin terbaik di Tanah Air. Untuk informasi lebih lanjut, follow dan pantengin akun Instagram LingoAce, ya! 

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​