Kembali

3 menit waktu baca

Sejarah dan Asal-usul Festival Ronde: Sang Pelopor Wedang Ronde

By ID LingoAce Team |Indonesia |July 4, 2023

Trending
blog-images

Siapa, sih, yang enggak tahu makanan nikmat yang bisa menghangatkan badan di kala cuaca dingin ini? Tentunya, sebagian besar dari kita sangat menyukai menu makanan ini meski badan sedang tidak kedinginan sekalipun, bukan? Nah, kalian tahu enggak, ternyata ada sebuah festival yang didedikasikan khusus untuk makanan ini, lho! Kalau kalian mengidolakan makanan ini, jangan sampai kalian enggak tahu soal ini, ya! Cek selengkapnya di tulisan di bawah ini!

Festival yang didedikasikan untuk wedang ronde ini memiliki nama lain Festival Dongzhi dan Winter Solstice. Festival ini dirayakan sebagai tradisi untuk menghormati titik balik matahari musim dingin yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa. Festival ini adalah perayaan paling terakhir yang ada dalam penanggalan Imlek. Beberapa kegiatan yang dilakukan masyarakat Tionghoa untuk merayakan festival ini adalah sembahyang, kumpul bersama keluarga, dan menyantap makanan kuliner khas Festival Wedang Ronde.

Seperti apa, ya, sejarah festival ini?

Festival ini pada awalnya ditemukan dan dirayakan pada sekitar 2.500 tahun yang lalu. Yang menemukan festival ini adalah Zhougfong. Ia menggunakan jam matahari untuk mengamati bayangan yang ada di muka bumi, lalu ia menemukan bahwa pada hari Festival Dongzhi jatuh, siang hari itu semakin panjang dan memang terasa panjang. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa ini adalah hal dan hari yang baik. Terang dan cerah yang lebih panjang dari biasanya seperti menyimbolkan bahwa ketidakbahagiaan atau kesengsaraan kini sudah berlalu, mereka memiliki kehidupan dan kesempatan baru menanti mereka. Untuk merayakan rasa syukur ini, mereka merayakannya dengan sembahyang arwah leluhur.

Festival ini sudah dirayakan sejak masa Dinasti Han (202 SM - 220 M), dilanjutkan Dinasti Tang (618 - 907 M), Dinasti Song (960 - 1279 M), dan bahkan pada saat Dinasti Ming dan Dinasti Qing (1368 - 1911 M), sang kaisar di China dipercayakan menyembah surga saat Winter Sostice tiba.

Makanan khas Winter Solstice

Di China, ada setidaknya enam makanan yang khas untuk merayakan festival ini. Beberapa makanan itu adalah pangsit, sup daging kambing, daikon, dumplingtangyuan (ronde), dan eight treasures porridge (bubur dengan bahan seperti jujube dan ubi). Biasanya, masing-masing daerah di Tiongkok akan memiliki cara mereka sendiri untuk merayakan festival ini. Seperti masyarakat Hangzhou yang memilih untuk memakan kue beras ketan, sedangkan masyarakat Kanton memilih makanan daging panggang. Lalu, orang Xiamen memakan jiangmu duck dan orang Tionghoa bagian selatan memakan tangyuan.

Hari Wedang Ronde di Indonesia

Nyatanya, perayaan ini juga dirayakan hingga di Indonesia, lho! Biasanya di saat hari ini tiba, orang Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa akan merayakan festival ini juga sama; kumpul bersama keluarga, sembahyang, dan membuat ronde. Dalam merayakannya, ada dua macam ronde yang biasanya dibuat untuk menjadi makanan khas festival ini: Ronde yang tanpa isi dan ronde yang berisi berbagai bahan seperti kacang tanah, kacang hitam, dan wijen. Kalau kalian lebih memilih ronde yang versi mana, nih? Sepertinya yang versi mana pun itu tetap terasa sangat lezat, ya!

Memang, negara China memiliki berbagai macam adat dan budaya menarik yang tidak akan ada habisnya. Apakah kalian tertarik untuk mengajak si kecil mempelajari adat dan budaya masyarakat Tionghoa lebih jauh lagi? Karena, mempelajari budaya dan bahasa Mandarin sepertinya akan  menjadi suatu kebutuhan di beberapa tahun mendatang. Negara China adalah salah satu negara yang kerap berkembang secara pesat dan menjadi negara dengan ekonomi termaju di dunia. Tentunya, untuk menyeimbangkan ini semua, sebaiknya si kecil diajarkan bahasa Mandarin sejak dini agar mereka bisa bersaing di dunia global nantinya, bukan?

Namun, kini mencari tempat belajar bahasa Mandarin sudah tidak menjadi suatu hal yang sulit, kok! Berkat globalisasi dan teknologi yang kian maju, kalian bisa mengajak si kecil untuk belajar bahasa Mandarin hanya dari rumah saja! Caranya adalah kalian daftarkan si kecil untuk belajar bahasa Mandarin di LingoAce! LingoAce adalah platform e-learning bahasa untuk anak usia 6 hingga 15 tahun! Kini, LingoAce sudah menyediakan kelas untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Mandarin untuk anak-anak.

Belajar bahasa di LingoAce tidak akan melelahkan atau membosankan karena guru yang mengajar di LingoAce adalah guru native speaker yang sudah memiliki banyak pengalaman mengajar sebelumnya, sehingga mereka bisa menyesuaikan diri mereka dengan tiap murid yang ada di kelasnya. Selain itu, kurikulum yang dibuat LingoAce juga sangat beragam agar bisa menyesuaikan kemampuan belajar bahasa tiap anak. Jadi, kalau si kecil belum bisa dasar bahasa Mandarin sama sekali, tenang saja, ya! LingoAce tentunya memiliki program belajar yang pas untuknya!

Tunggu apa lagi? Jangan ditunda-tunda daftar kelas free trial LingoAce di sini! Follow juga Instagram LingoAce Indonesia di @lingoace.id untuk melihat promo terbaru dan tips parenting seru!

All members of the team have a background in linguistic education, strong bilingual abilities, and at least two years of international experience. They have a good understanding of the living environment and language environment overseas, focusing on the language learning experience for children aged 3-15. They continue to introduce Chinese culture to children across the globe, and are the best storytellers in LingoAce, helping to facilitate language learning for parents overseas.​